Rabu, 12 November 2014

Tulisan 1



Diorama Hidupku



Sebuah karya dari Devie Destiarini



Aku masih terpaku di jendela kamarku. Kurasa saat ini akulah orang yang paling menderita di dunia. Entahlah. Hujan dan dinginnya angin malam pun tak bisa membuatku beranjak. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada di pikirku. Banyak sekali hal yang sedang berebut tempat di otakku. Hatiku pun ikut resah dan gundah. Seperti ada yang hilang. Boneka beruang pink yang kupeluk sudah basah oleh tetesan air mataku yang terus meleleh. Hingga lama-lama aku merasa lelah dan akhirnya aku tertidur. Sepertinya sudah lama sekali waktu kulewati.
            “Tok,tok,tok.”
“ Neng Rahma, bangun. Hari ini berangkat sekolah kan?”
Aku terbangun, karena seseorang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Bi Sami, pembantu rumah tanggaku. Ia sudah sepuh, tetapi kami tak berniat sama sekali menggantinya, hanya mempekerjakan orang baru untuk membantunya. Bi Sami sudah seperti keluarga, ia sangat dekat dengan kami terutama aku. Jika ada masalah, aku selalu bercerita padanya. Yang semenjak kecil diasuhnya. Malah kurasa ia lah yang lebih pantas kuanggap orang tua, dibanding orang tuaku sendiri.
“Iya, Bi. Makasih.”
Dengan rasa malas, aku bangun dari kasur dan segera menuju kamar mandi. Kusempat melirik cermin di dinding. Kulihat mataku yang sembab dan merah, bekas menangis semalam. Sampai sekarang aku masih terbawa emosinal perasaan semalam sehingga kepalaku terasa sangat pusing dan berat.
Aku tak sempat untuk sarapan, takut terlambat. Tetapi seperti biasa Bi Sami selalu memaksaku untuk tetap sarapan barang sedikit saja. Aku menolak dengan alasan nanti terlambat, jadi aku memintanya untuk menaruh sepasang roti selai stroberi kesukaanku dalam kotak makan saja dan memakannya saat di mobil.  Sambil terburu-buru memakai sepatu, aku sempatkan bertanya pada Bi Sami,
“Ayah sama bunda mana, Bi ?”
“Udah berangkat dari tadi, neng. Kayaknya buru-buru banget sampe gak mau sarapan .” , jawabnya.
“Oh, mereka nanyain aku nggak?” , ujarku berharap.
“Mm..nggak, neng.” , jawabnya sambil tersenyum kecut karena ia pasti tahu perasaanku.
Aku mengangguk. “Ya udah aku berangkat dulu ya, Bi.”
Ayah dan bunda memang orang yang sangat sibuk. Sampai-sampai tidak punya waktu sama sekali untuk anak semata wayangnya ini. Jangankan untuk pergi bersama, mengobrol pun menjadi kesempatan yang amat sulit. Ayahku, Galuh Ageng Sutojo,  mempunyai perusahaan yang cukup besar dan mengelolanya sendiri. Dari dulu beliau memang sibuk, tetapi tidak sesibuk sekarang. Sedangkan bundaku, Aranthi Mitya Ayu, seorang wanita bisnis yang bertambah sibuk setelah usaha garmen dan butik yang dirintis bersama teman-temannya semakin sukses. Mereka selalu pulang malam saat aku sudah tidur. Jadi, sangat sulit bagiku untuk bertemu. Padahal kami tinggal di satu atap. Miris memang. Dengan keadaan yang terus begitu, aku semakin kesepian di rumah. Hanya ada Bi Sami, Mbak Inah, dan Mang Ading-sopirku.
Aku sudah pernah membicarakan hal ini pada mereka, tetapi mereka menjawab semua ini dilakukan demi aku. Aku tak butuh yang lain selain kasih sayang dan kehadiran mereka untukku. Mungkin hal ini juga lah yang membuatku selalu sedih.
**
Di kelas, tak satupun pelajaran yang diterangkan guru masuk ke dalam otakku. Aku tak bisa berkonsentrasi penuh karena masih terus dibayangi masalah itu. Entah sampai kapan aku akan terus begini. Aku merasa sangat kacau. Teman-temanku heran melihatku yang begini, tak bersemangat, menjadi pendiam, dan pelamun. Aku memang dikenal sebagai pribadi yang aktif dan ceria. Mereka tak pernah tahu aku sedang bermasalah, karena biasanya aku selalu terlihat tanpa beban.
            Di kantin aku masih melamun sampai tiba-tiba seseorang datang mengejutkanku .
            “ Hoy, ngelamun aja lo ! ”, ujar Tasya, sahabat baikku sambil menepuk bahu. Di belakangnya ternyata ada Icha, sahabatku juga. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka memposisikan duduk di sampingku dan langsung menggencarkan beberapa pertanyaan padaku.
            “Ma, lo lagi ada masalah ya? Lo keliatan beda deh.” ,ucap Icha dengan tatapan heran.
            “Iya nih, lo kenapa sih? Kalo ada masalah, cerita dong ama gue. Siapa tau gue bisa bantu lo.” ,Tasya menimpali. Tetapi aku masih saja diam sambil menundukkan kepala.
            “Gue..gue..ah, nggak papa.” , jawabku sambil mengangkat kepala kemudian menundukkan lagi.
            “Yah..jangan bikin penasaran donk. Kami kan sahabat lo.” , ucap Tasya tidak sabar.
            “Mm, ya udah. Pulang sekolah kalian ke rumah gue aja. Gimana?”
            “Oke deh. Kami akan selalu ada buat lo, Ma.” , jawab mereka kompak.
            Bel pulang berbunyi. Mang Ading sudah menjemput dan menunggu di gerbang sekolah. Segera saja aku, Tasya, dan Icha masuk mobil dan menuju ke rumahku. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju lantai atas, tempat kamarku berada. Tidak lupa aku meminta Mbak Inah untuk membuat minuman dan membawa camilan untuk temanku.
            “Ma, sebenernya lo lagi ada masalah apa sih?”, tanya Icha begitu kami masuk kamar. Baru aku akan menjawab, Mbak Inah masuk, jadi kutahan jawabanku. Setelah ia keluar, aku memulai ceritaku dengan wajah sedih.
            “Cha, Sya, selama ini gue nggak pernah ngrasa bener-bener hidup bahagia. Gue sadar, kehidupan gue di atas rata-rata orang kebanyakan. Apa aja ada. Tapi, mereka lebih beruntung. Bisa selalu berbagi kasih sayang sama keluarganya. Sedangkan gue?? Ketemu sama ortu aja jarang, apalagi ngumpul dan seru-seruan bareng. Boro-boro deh. Mereka itu egois ! Nggak pernah merhatiin gue ! Gue kesepian di rumah. ” , ucapku sambil terisak. Sahabatku hanya diam mendengarkan sambil mengelus punggungku.
            “Munafik memang kalo bilang gue cuma butuh kasih sayang mereka bukan materi. Tapi bukan itu prioritasnya, rasanya nggak adil kalo hidup gue nggak bahagia.” , aku masih menangis. Mereka menenangkanku, mencoba pahami perasaanku saat itu. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu masalahku. Hanya saja rasanya enggan untuk bercerita pada mereka. Aku mencoba menutupi agar mereka yakin tak ada masalah lain.
            “Ma, Cha, gimana kalo kita jalan-jalan ke PIM aja? Buat nyegerin gitu..” , ucap Tasya tiba-tiba memecah hening.
            “Ide bagus tuh.” ,Icha menanggapi semangat. Aku hanya tersenyum, aku  masih merasa sangat kacau , karenanya kuturuti saja saran mereka.
            Kami bertiga pergi menggunakan mobil Yaris merah milikku. Di sana aku merasa cukup terhibur dengan kegiatan kami. Bermain game, melihat-lihat baju, mencoba sepatu, dan makan es krim karamel kesukaanku. Ditambah lagi dengan kehadiran sahabat-sahabatku ini. Ya, setidaknya aku masih punya orang yang sayang dan selalu ada untukku.
            Kami sudah merasa lelah, hari juga sudah gelap. Jadi, kami putuskan untuk pulang. Kedua sahabatku langsung kuantar ke rumah mereka masing-masing. Hhh, hari yang melelahkan, tetapi cukup menyenangkan sih , gumamku. Sehabis mengantar mereka, aku masih malas untuk langsung pulang ke rumah. Aku memilih untuk mencari makan dahulu.
            Aku mampir ke sebuah restoran makanan cepat saji, Pizza E Birra. Ya, pizza adalah salah satu makanan favoritku. Aku memesan beberapa makanan dan minuman. Dengan rasa lapar, kulahap semuanya.
            Perutku sudah kenyang, kantuk pun mulai menyerang. Sekarang aku ingin cepat pulang, karena takut menyetir saat kantuk. Kulihat jam tangan berwarna ungu pemberian ayah, udah jam 9 malam rupanya, gumamku. Saat aku akan beranjak dari kursiku, aku terbelalak melihat sosok yang tak asing bagiku masuk bersama seorang lelaki muda bertubuh tinggi tegap yang juga seperti kukenal, merangkul bahunya dengan mesra. Wanita itu ternyata…..Bunda ! Dan Lian !
            Aku terkejut bukan kepalang, melihat kejadian di depan mataku. Aku masih terpaku di tempatku. Rasanya seperti ada petir yang menyambar, jantungku serasa akan berhenti, napasku jadi tak teratur. Tiba-tiba ada rasa hangat mengalir lembut di pipiku. Air mataku jatuh tak terbendung lagi. Aku tak tahu harus bagaimana.
            Bunda belum menyadari keberadaanku, ia terlihat sangat bahagia sambil tertawa-tawa manja. Tuhaaan, apa ini??!! . Aku tak kuat lagi. Aku langsung berlari ke arah pintu. Sepertinya bunda baru menyadari itu aku. Ia terlihat sangat terkejut dan memanggil-panggil namaku. Aku tak peduli. Aku kecewa, sungguh amat sangat kecewa! Aku tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh orang-orang di sekitarku. Lalu aku memacu kencang mobilku dengan rasa marah, kecewa, sedih bercampur jadi satu. Air mataku keluar sangat deras, aku sesenggukan.
            Sampai di rumah, aku langsung mengunci diri dalam kamar. Membanting tubuh ke kasur sambil terus menangis. Aku memukul-pukulkan tanganku ke bantal sekuat tenaga.
            “Ya Tuhan, cobaanmu sungguh beraat.” , ucapku terbata.
            Tak lama aku tertidur dengan lelapnya karena sangat kelelahan. Secara fisik maupun perasaan. Aku sungguh masih belum bisa memercayai apalagi  menerima kejadian yang terjadi padaku tadi.
**
            Aku terbangun di tengah malam. Aku haus. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 00.37 . Aku terkejut mendengar suara seseorang marah-marah. Suara itu sepertinya berasal dari kamar ayah dan bunda. Ya, kamarku dan kamar orang tuaku berada di satu lantai. Jaraknya tidak terlalu dekat, namun suara itu dapat terdengar olehku. Aku menduga mereka sedang bertengkar. Tak tahu apa sebabnya. Suatu kali aku juga pernah mendengar mereka bertengkar begitu. Aku merasa sangat pusing dengan semua ini. Aku menangis lagi. Sepertinya ini masalah yang sangat berat untuk kupikul sendirian.
            Aku kembali mendekap guling dan merapatkan selimut, mencoba untuk kembali menenangkan diri dalam tidur. Dalam hangat selimut aku terus bertekad untuk tidak menyerah menghadapi ujian dari Tuhan ini. Aku harus tetap kuat, tetap sabar, tetap bersyukur , dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku yakin Tuhan pasti punya rencaha hebat di balik semua ini. Aku mulai tenang lagi, dan tersenyum. Kemudian aku kembali terlelap.
**
            Seberkas sinar matahari pagi menyusup ke dalam kamarku dari celah tirai. Membuatku kembali terjaga. Aku merasa lebih baik sekarang. Yah, walau aku masih dilanda syok berat atas kejadian semalam. Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Syukurlah dalam kamarku ada kamar mandi dan kulkas. Memudahakanku agar tidak perlu repot keluar kamar. Karena jujur, sampai sekarang aku masih enggan untuk melihat bunda.
            Karena hari ini hari Sabtu, aku libur. Lumayan untuk istirahat. Aku berencana untuk tidak kemana-mana, termasuk keluar kamar. Aku lebih memilih tetap di kamar untuk menghindar dari bunda. Setelah merapikan kamar, aku merasa ingin sekali membuka album foto yang tersimpan di lemari kecil di bawah rak buku jumbo milikku. Ya, aku memang suka membaca. Hampir semua jenis bacaan aku suka. Dari yang bertopik berat sampai yang ringan. Sedari kecil ayah sudah membiasakanku unutk gemar membaca. Ayah, ah. Aku jadi teringat. Aku merasa kasihan kepada ayah, yang jungkir balik menafkahi keluarga hingga menjadi sesukses sekarang. Mengapa bunda begitu?? Tidak bisakah bunda menghargai ayah?? Ternyata bunda sangat tega ! Aku tidak bisa terima. Ah, aku menangis lagi.
            Kubuka satu demi satu halaman album foto. Di situ kami sekeluarga tertawa-tawa senang, aku sedang digendong di bahu ayah. Aku berpikir, seandainya kami bisa terus begini. Ah… masa lalu adalah masa lalu. Yang tak mungkin bisa kuulang, makanya aku bertekad untuk tetap berusaha sebaik mungkin agar tidak menyesal nantinya. Aku juga tak ingin menyimpan dendam di hati, apalagi kepada bunda, wanita yang melahirkanku. Aku ingin sekali memberitahu ayah soal itu, tapi aku bingung bagaimana caranya agar tidak melukai hati mereka berdua. Aku sebal pada diriku sendiri. Mengapa tak bisa membantu menyelesaikan masalah keluargaku sendiri???
            Aku duduk mendekati jendela kamar yang menghadap lngsung ke arah taman dan kolam renang di samping rumah. Indah sekali. Namun, betapapun indahnya bagi hati yang sedang gundah terasa tak menarik. Aku menghela napas panjang. Aku mencoba mengingat-ingat semua kejadian dalam hidupku.
            Aku terlahir di keluarga yang serba kecukupan. Orang tuaku memberi nama Rahmashya Glorinayara Sutojo. Kini usiaku menginjak tujuh belas tahun dan duduk di bangku kelas XI. Kegemaranku adalah berenang dan bermain piano dan aku merupakan atlet renang andalan sekolah, jadi bisa dipastikan tubuhku tinggi semampai. Sedang untuk piano aku sudah menyabet berbagai juara untuknya. Aku tidak terlalu mementingkan fesyen. Gayaku dalam berpenampilan sederhana saja. Dengan potongan rambut panjang, aku terlihat sangat feminin. Aku anak tunggal, hampir semua keinginanku pasti dipenuhi. Walaupun begitu aku tidak merasa cukup bahagia dengan semua itu. Bukannya aku tak bersyukur, aku selalu bersyukur pada Tuhan atas semuanya. Tetapi apakah untuk mengimbangi semua itu, aku harus mendapatkan sesuatu yang disebut ‘timbal baliknya’?? Seperti keluarga tidak harmonis, ibu yang selingkuh, juga kehidupan percintaanku yang semrawut.
            Seperti yang sebelumnya pernah kukatakan, ‘masalahku bukan hanya itu’. Ada lagi cerita yang kupendam selama ini. Ya, tak lain dan tak bukan mengenai kehidupan asmaraku. Kira-kira lima bulan yang lalu, ada seorang cowok yang menyatakan perasaannya padaku. Ia adalah teman sekolahku, kami sekelas. Saat itu ia mengajakku pergi dengan alasan ingin mencari buku. Aku sebenarnya kurang yakin dengan ucapannya. Tetapi aku merasa tidak enak menolaknya.
Di toko buku, saat keadaan dirasanya sepi, ia mulai berbicara,
            “Ma, gue suka sama lo. Dan bukan cuma suka, gue sayang sama lo.”, ucap Filian, cowok itu. Aku diam terkejut, jelas sekali di wajahku.
            “Hah? A..a..a..gue…” , aku bingung.
            “Mau gak lo jadi pacar gue?” , semakin terkejut saja diriku. Aku tak tahu, harus mengiyakan atau tidak. Aku tidak terlalu mengenalnya. Perasaanku padanya pun biasa saja. Kami baru kenal selama tiga bulan. Tetapi, kurasa ia orang yang cukup baik. Jadi, apa salahnya bila kucoba. Akhirnya, aku menerimanya. Ia terlihat sangat girang.
Setelah mengambil beberapa buku yang ternyata memang ia ingin beli, kami pergi ke kasir dengan bergandengan dan terus saling melempar senyum. Ya, maklumlah pasangan baru.
            Filian adalah bintang basket sekolah. Ia berwajah cukup tampan, bertubuh tinggi tegap, dan gayanya terlihat keren. Jadi, bisa disimpulkan ia merupakan salah satu cowok yang paling diidamkan cewek-cewek sekolah kami. Tetapi, alasanku menerimanya bukan karena itu. Aku sama sekali tidak tergoda. Itu hanya nilai plus saja.
            Berangkat sekolah, aku masih tetap diantar jemput Mang Ading. Aku dan Filian tidak berangkat bersama, kami memilih untuk tidak menggembar-gemborkan hubungan kami. Sebenarnya, itu keinginannya. Ia beralasan demi aku, agar tidak menjadi sasaran gosip dan cewek-cewek yang terobsesi padanya. Aku menurut saja, karena aku memercayainya.
            Sepanjang pelajaran, Lian-panggilan akrabnya, melihat ke arahku terus. Aku sebenarnya agak risi. Apalagi ketika guru memergokinya, duh, malunya aku. Icha dan Tasya sahabatku berada di kelas yang berbeda. Jadi aku bisa menutupi hubunganku. Walaupun mereka sahabatku, Lian tetap tak mengizinkanku memberitahukan hubungan kami pada mereka .
**
            Tiga bulan sudah hubungan kami berjalan. Tetapi selama itu baru satu kali ia mengajakku pergi berkencan saat awal-awal kami berpacaran. Aku heran, setiap kali aku ajak pergi ia selalu berdalih sedang sibuk latihan basket ataupun ada kumpul penting klub basket kesayangannya itu. Menghubungiku pun hanya disaat ia butuh sesuatu atau aku yang menghubunginya lebih dulu.Padahal aku juga harus tetap latihan bersama klub renangku dan memenuhi undangan untuk menjadi pianis suatu acara. Tapi, aku masih bisa menyempatkan waktu untuknya.
Lama-lama aku mulai curiga padanya. Kepercayaan yang selama ini kuberi mulai goyah. Akhirnya, aku berinisiatif untuk mencari informasi. Selama satu minggu, aku mencoba mengikuti segala kegiatannya. Sebelumnya aku menelponnya, sedang ada kegiatan apa. Dan selama itu ia jujur. Aku mulai memercayainya lagi. Namun, di akhir minggu  sesuatu terjadi. Aku memergokinya sedang berjalan-jalan di sebuh mal dengan seorang cewek, dan sepertinya salah satu fan-nya. Ia merangkul bahu cewek itu dengan erat. Aku merasa sangat cemburu dan marah. Mereka memasuki sebuah kafe dan mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca, membuatku mudah melihat. Aku melihat Lian menggenggam tangan cewek itu sambil mengatakan sesuatu yang tak dapat kudengar. Dan tiba-tiba Lian mencium kening cewek itu. Aku terkejut dan sangat kecewa padanya. Kepercayaan yang selama ini kuberi, kini benar-benar musnah. Tega nian dia menghianatiku. Sambil menangis dan penuh amarah, aku pergi dari tempatku mengawasi. Aku benci kalian! Benci ! Dasar laki-laki buaya ! Argh !
Setiba di rumah aku langsung lari menuju kamar. Saat itu tumben sekali bunda sudah pulang. Beliau melihatku dan langsung mencegatku. Tangisku pecah lagi, tetapi aku tak ingin bercerita apa-apa. Aku hanya ingin menenangkan diri. Jadi, aku langsung menghindarinya dan pergi. Tak kuhiraukan panggilannya.
Aku datang ke sekolah agak terlambat, tujuannya agar Lian tidak berkesempatan menghampiriku. Saat istirahat, aku mengajak Icha dan Tasya ke kantin. Aku berpapasan dengan Lian. Ia tersenyum padaku, tapi aku membuang muka. Aku sangat kesal dengannya. Ia membiarkanku pergi dengan tatapan heran. Tak kupedulikan. Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Ada pesan dari Lian.
sayang, kamu marah sama aku? Aku salah apa?’
Lian
Cih, apa sih maunya? Dasar cowok buaya! Sengaja tak kubalas pesannya. Namun, ia tak tinggal diam. Pulang sekolah ia mencegatku dan menarikku ke tempat yang lebih sepi agar tak ada yang melihat.
“Kamu kenapa sih ? Seharian kamu cuekin aku. Nggak enak tau rasanya?!” , ujarnya dengan nada meninggi.
“Lo nggak sadar sama apa yang udah lo lakuin ke gue?? Lo selingkuh !” , balasku tanpa basa basi.
“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak mungkin hianatin kamu, sayang.” , ia mencoba meyakinkanku.
“Jangan boong lo ! Gue liat sendiri. Ini buktinya.” , kutunjukkan fotonya bersama cewek itu. Ya, waktu itu aku diam-diam memotret mereka. Untuk barang bukti. Ia membelalakkan matanya, terlihat sekali keterkejutan di wajahnya.
“E..e..i.. ini..inii.. Nggak, itu bukan aku. Kamu salah liat kali.” , ucapnya mecoba berkelit.
“Eh, dulu lo ngejar-ngejar gue. Lo bilang sayang sama gue. Nggak bakal hianatin gue. Tapi sekarang apa?? Lo tega banget. Sakiiit tau rasanya !” , ucapku sambil mendorong tubuhnya.
“Mulai sekarang kita putus!!”, sambungku sambil berlari meninggalkannya. Kali ini tak ada air mata. Sayang sekali bila air mataku ini hanya untuk menangisi seorang cowok tak berperasaan sepertinya.
Mulai saat itulah aku memilih untuk tidak berurusan dahulu dengan lelaki. Ada sedikit trauma di diriku. Tapi, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku masih menyimpan rasa, ternyata aku sayang padanya. Sungguh sulit bagiku menghapus semua itu. Apalagi setiap hari aku bertemu dengannya di kelas. Hampir setiap malam aku teringat pada Lian. Tak jarang aku menangis, ditambah lagi dengan masalah keluargaku.
**
            Suatu hari aku pulang sekolah. Ada kedua orang tuaku di rumah, mereka seperti sudah menungguku. Wajah mereka terlihat sangat serius. Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi pada mereka. Entahlah. Ketika aku baru saja tiba, mereka menyuruhku untuk segera berganti pakaian. Ada sesuatu yang akan mereka bicarakan padaku. Dengan perasaan heran, aku menuruti perintah mereka saja.
            Aku telah duduk berhadapan dengan kedua orang tuaku. Mereka menatapku tajam. Ayah yang memulai pembicaraan.
            “Rahma, ada sesuatu yang perlu kamu tau.” , buka ayah.
            “Apa, yah?” , ucapku tak mengerti.
            “Kami..kami tahu ini keputusan yang berat. Tapi kami yakin inilah yang terbaik.”,lanjut ayah.
            Aku belum mengerti kemana arah pembicaraan ini berjalan. “Maksudnya, yah? Aku jadi makin bingung. Sebenarnya ada apa sih dengan kalian?”, ucapku sedikit mendesak.
“Sayang, kami memutuskan untuk berpisah.” , bunda menimpali sambil menunduk. Terlihat beliau takut-takut menatapku.
            Mataku terbelalak terkejut. Bagai petir di siang bolong menyambar dadaku tiba-tiba. Sesaaak sekali rasanya. “A..apa maksudnya? K..kenapa ayah,bunda mau cerai?? Kalian nggak sayang sama aku? Apa kalian nggak tau kalo selama ini kesibukan kalian aja udah beban buat aku?? Ketidakpedulian kalian juga udah menyakiti aku. Kalian nggak pernah sadar itu kan??” , responku spontan. Aku berlari, menuju kamarku, menguncinya, dan menangis sejadinya. Aku kacau. Aku seperti hilang pijakan. Aku sadari ucapanku tadi kasar dan tak pantas, tapi aku terlalu terpukul untuk mencari kata yang lebih sopan agar mereka mengerti.
Rasanya ingin sekali aku pergi meninggalkan dunia ini, aku terlalu rapuh menerima semuanya. Tapi keluhku pada Tuhan rasanya takkan pantas, nikmat hidup yang diberiNya terlalu luar biasa. Aku limpung. Ada masalah yang rasanya tak kuat kutagguh. Saat pijakanku goyah begini, hanya kepadaNya aku berlari. “Tuhan, maafkan aku…Aku jauh dariMu selama ini. Kau menarikku mendekat dengan masalah ini. Terima kasih, Tuhan. Kau masih menyayangiku….Aku yakin.”
Meskipun tak tahu hari-hari esok kan seperti apa, aku mencoba menenangkan pikiran kacauku. Semoga aku bisa, semoga…..
**
           

SEJARAH KOPERASI DI DUNIA




I.                   Pengertian dan manfaat koperasi

            Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatanya berdasarkan perinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

a.       Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyrakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya
b.      Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan masyrakat dan manusia
c.       Meperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya
d.      Berusaha untuk mewujudkan dan menge3mbangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi

Syarat pembentukan koperasi antara lain
a.       Koperasi primer dibentuk oleh sekurang-kurangnya 20 ( dua puluh orang )
b.      Koperasi sekunder di bentuk sekurang- kurangnya 3 (tiga ) koperasi

II.                SEJARAH LAHIRNYA KOPERASI DI DUNIA

                  Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (barat) dan negara berkembang memang sangat diametral. Di barat koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Di negara berkembang koperasi dirasa perlu dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat ditonjolkan di negara berkembang, baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintahan bangsa sendiri setelah kemerdekaan. Berbagai peraturan perundangan yang mengatur koperasi dilahirkan dengan maksud mempercepat pengenalan koperasi dan memberikan arah bagi pengembangan koperasi serta dukungan/perlindungan yang diperlukan.
 
                  Pada saat ini dengan globalisasi dan runtuhnya perekonomian sosialis di Eropa Timur serta terbukanya Afrika, maka gerakan koperasi di dunia telah mencapai suatu status yang menyatu di seluruh dunia. Dimasa lalu jangkauan pertukaran pengalaman gerakan koperasi dibatasi oleh blok politik/ekonomi, sehingga orang berbicara koperasi sering dengan pengertian berbeda. Meskipun hingga tahun 1960-an konsep gerakan koperasi belum mendapat kesepakatan secara internasional, namun dengan lahirnya Revolusi ILO-127 tahun 1966 maka dasar pengembangan koperasi mulai digunakan dengan tekanan pada saat itu adalah memanfaatkan model koperasi sebagai wahana promosi kesejahteraan masyarakat, terutama kaum pekerja yang ketika itu kental dengan sebutan kaum buruh. Sehingga syarat yang ditekankan bagi keanggotaan koperasi adalah “Kemampuan untuk memanfaatkan jasa koperasi”. Dalam hal ini resolusi tersebut telah mendorong tumbuhnya program-program pengembangan koperasi yang lebih sistematis dan digalang secara internasional.
 
                  Pada akhir 1980-an koperasi dunia mulai gelisah dengan proses globalisasi dan liberalisasi ekonomi dimana-mana, sehingga berbagai langkah pengkajian ulang kekuatan koperasi dilakukan. Hingga tahun 1992 Kongres ICA di Tokyo melalui pidato Presiden ICA (Lars Marcus) masih melihat perlunya koperasi melihat pengalaman swasta, bahkan laporan Sven Akheberg menganjurkan agar koperasi mengikuti layaknya “private enterprise”. Namun dalam perdebatan Tokyo melahirkan kesepakatan untuk mendalami kembali semangat koperasi dan mencari kekuatan gerakan koperasi serta kembali kepada sebab di dirikannya koperasi. Sepuluh tahun kemudian Presiden ICA saat ini Roberto Barberini menyatakan koperasi harus hidup dalam suasana untuk mendapatkan perlakuan yang sama “equal treatment” sehingga apa yang dapat dikerjakan oleh perusahaan lain juga harus terbuka bagi koperasi (ICA, 2002). Koperasi kuat karena menganut “established for last”.
 
                  Pada tahun 1995 gerakan koperasi menyelenggarakan Kongres koperasi di Manchester Inggris dan melahirkan suatu landasan baru yang dinamakan International Cooperative Identity Statement (ICIS) yang menjadi dasar tentang pengertian prinsip dan nilai dasar koperasi untuk menjawab tantangan globalisasi. Patut dicatat satu hal bahwa kerisauan tentang globalisasi dan liberalisasi perdagangan di berbagai negara terjawab oleh gerakan koperasi dengan kembali pada jati diri, namun pengertian koperasi sebagai “enterprise” dicantumkan secara eksplisit. Dengan demikian mengakhiri perdebatan apakah koperasi lembaga bisnis atau lembaga “quasi-sosial”. Dan sejak itu semangat untuk mengembangkan koperasi terus menggelora di berbagai sistim ekonomi yang semula tertutup kini terbuka.
Catatan awal : “Dari sini dapat ditarik catatan bahwa koperasi berkembang dengan keterbukaan, sehingga liberalisasi perdagangan bukan musuh koperasi”.
 
                  Di kawasan Asia Pasifik hal serupa ini juga terjadi sehingga pada tahun 1990 diadakan Konferensi Pertama Para Menteri-Menteri yang bertanggung jawab dibidang koperasi di Sydney, Australia. Pertemuan ini adalah kejadian kali pertama untuk menjembatani aspirasi gerakan koperasi yang dimotori oleh ICA-Regional Office of The Asian dan Pacific dengan pemerintah. Pertemuan ini telah melicinkan jalan bagi komunikasi dua arah dan menjadi pertemuan regional yang reguler setelah Konferensi ke II di Jakarta pada tahun 1992. Pesan Jakarta yang terpenting adalah hubungan pemerintah dan gerakan koperasi terjadi karena kesamaan tujuan antara negara dan gerakan koperasi, namun harus diingat program bersama tidak harus mematikan inisiatif dan kemurnian koperasi. Pesan kedua adalah kerjasama antara koperasi dan swasta (secara khusus disebut penjualan saham kepada koperasi) boleh dilakukan sepanjang tidak menimbulkan erosi pada prinsip dan nilai dasar koperasi.

III.             SEJARAH LAHIRNYA KOPERASI DI INDONESIA
Bangsa Indonesia sendiri telah lama mengenal kekeluargaan dan kegotongroyongan, yang dipraktekkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Kebiasaan-kebiasaan tersebut, merupakan input untuk Pasal 33 ayat 1 UUD 1945 yang dijadikan dasar/pedoman pelaksanaan Koperasi. Kebiasaan-kebiasaan nenek moyang yang turun-temurun itu dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia di antaranya adalah Arisan untuk daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, paketan, mitra cai dan ruing mungpulung daerah Jawa Barat, kerja sama pengairan yang terkenal dengan Subak untuk daerah Bali, dan Julo-julo untuk daerah Sumatra Barat merupakan sifat-sifat hubungan sosial, dan menunjukkan usaha atau kegiatan atasdasar kadar kesadaran berpribadi dan kekeluargaan. Bentuk-bentuk ini yang lebih bersifat kekeluargaan, kegotongroyongan, hubungan social, nonprofit dan kerjasama disebut Pra Koperasi. Pelaksanaan yang bersifat pra-koperasi terutama di pedesaan masih dijumpai, meskipun arus globlisasi terus merambat ke pedesaan.
Adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada pertengahan abad ke-18 telah mengubah wajah dunia. Berbagai penemuan di bidang teknologi ( revolusi industri ) melahirkan tata dunia ekonomi baru. Tatanan dunia ekonomi menjajdi terpusat pada keuntungan perseorangan, yaitu kaum pemilik modal ( kapitalisme ). Sistem ekonomi kapitalis / liberal memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada pemilik modal dan melahirkan kemelaratan dan kemiskinan bagi masyarakat ekonomi lemah.
Dalam kemiskinan dan kemelaratan ini, muncul kesadaran masyarakat untuk memperbaiki nasibnya sendiri dengan mendirikan koperasi. Pada tahun 1844 lahirlah koperasi pertama di Inggris yang terkenal dengan nama Koperasi Rochdale di bawah pimpinan Charles Howart. Di Jerman, Frederich Willhelm Raiffeisen dan Hermann Schulze memelopori Koperasi Simpan Pinjam. Di Perancis, muncul tokoh-tokoh kperasi seperti Charles Fourier, Louis Blance, dan Ferdinand Lassalle. Demikian pula di Denmark. Denmark menjadi Negara yang paling berhasil di dunia dalam mengembangkan ekonominya melalui koperasi. Kemajuan industri di Eropa akhirnya meluas ke Negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (barat) dan negara berkembang memang sangat diametral. Di barat sendiri koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Sedangkan di negara berkembang koperasi dirasa perlu dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi, maka berbagai peraturan perundangan yang mengatur koperasi dilahirkan dengan maksud mempercepat pengenalan koperasi dan memberikan arah bagi pengembangan koperasi serta dukungan/perlindungan yang diperlukan.
Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12 Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi. Paling tidak dengan dasar yang kuat tersebut sejarah perkembangan koperasi di Indonesia telah mencatat tiga pola pengembangan koperasi. Ciri utama perkembangan koperasi di Indonesia adalah dengan pola penitipan kepada program yaitu :
(i)                Program pembangunan secara sektoral seperti koperasi pertanian, koperasi desa, KUD;
(ii)              Lembaga-lembaga pemerintah dalam koperasi pegawai negeri dan koperasi fungsional lainnya; dan
(iii)            Perusahaan baik milik negara maupun swasta dalam koperasi karyawan.
Pertumbuhan koperasi di Indonesia sendiri mengalami pasang surut dengan titik berat lingkup kegiatan usaha secara menyeluruh yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Pertumbuhan koperasi Indonesia yang dipelopori Patih Purwokerto R.Aria Wiriatmadja bergerak pada bidang simpan pinjam. Akan tetapi untuk memodali kegiatan tersebut beliau menggunakan uang sendiri dan kas masjid(Djojohadikoesoemo,1940).Setelah beliau tahu hal itu dilarang ,maka uang kas masjid dikembalikan secara utuh .
Kegiatan koperasi simpan pinjam kemudian dikembangkan oleh De Wolf Van Westerrode assisten residen Wilayah Purwokerto di Banyumas. Setelahnya pada tahun 1908 Budi Oetomo berdiri. Organisasi ini menganjurkan koperasi untuk Rumah Tangga. Begitu pula SDI(Serikat Dagang Islam) yang mengembangkan koperasi untuk kebutuhan sehari hari.
Pada tahun 1918 K.H. Hasyim Asyari mendirikan koperasi bernama Syirkatul Inan (SKN) yang beranggotakan 45 orang. Organisasi bertekad dengan kelahiran koperasi ini sebagai periode “Nahdlatuttijar”.Oleh karena itu maka 2 tahun kemudian dibentuklah “Komisi Koperasi”yang dipimpin oleh DR.J.H Boeke untuk meneliti kebutuhan masyarakat Bumi Putera dalam berkoperasi. Akhirnya DR.J.H Boeke ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Koperasi yng pertama. Perkembangan setelah berdirinya Jawatan koperasi tahun 1930,koperasi berkembang sangat pesat
Secara teoritis sumber kekuatan koperasi sebagai badan usaha dalam konteks kehidupan perekonomian, dapat dilihat dari kemampuan untuk menciptakan kekuatan monopoli dengan derajat monopoli tertentu, ini adalah kekuatan semu dan justru dapat menimbulkan kerugian bagi anggota masyarakat di luar koperasi. Sumber kekuatan lain adalah kemampuan memanfaatkan berbagai potensi external yang timbul di sekitar kegiatan ekonomi para anggotanya. Koperasi juga dapat dilihat sebagai wahana koreksi oleh masyarakat pelaku ekonomi, baik produsen maupun konsumen, dalam memecahkan kegagalan pasar dan mengatasi inefisiensi karena ketidaksempurnaan pasar.
Koperasi selain sebagai organisasi ekonomi juga merupakan organisasi pendidikan dan pada awalnya koperasi maju ditopang oleh tingkat pendidikan anggota yang memudahkan lahirnya kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam sistem demokrasi dan tumbuhnya kontrol sosial yang menjadi syarat berlangsungnya pengawasan oleh anggota koperasi. Oleh karena itu kemajuan koperasi juga didasari oleh tingkat perkembangan pendidikan dari masyarakat dimana diperlukan koperasi. Pada saat ini masalah pendidikan bukan lagi hambatan karena rata-rata pendidikan penduduk dimana telah meningkat. Bahkan teknologi informasi telah turut mendidik masyarakat, meskipun juga ada dampak negatifnya.
Sampai dengan bulan November 2008, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 117.600 unit lebih. Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil. Pengembangan koperasi di Indonesia yang telah digerakan melalui dukungan kuat program pemerintah yang telah dijalankan dalam waktu lama dan tidak mudah ke luar dari kungkungan pengalaman tersebut. Struktur organisasi koperasi Indonesia mirip organisasi pemerintah/lembaga kemasyarakatan yang terstruktur dari primer sampai tingkat nasional. Hal ini telah menunjukkan kurang efektif nya peran organisasi sekunder dalam membantu koperasi primer. Tidak jarang menjadi instrumen eksploitasi sumberdaya dari daerah pengumpulan. Fenomena ini dimasa datang harus diubah karena adanya perubahan orientasi bisnis yang berkembang dengan globalisasi.
“Pendidikan dan peningkatan teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan kekuatan koperasi (pengembangan SDM)”.
Dengan adanya peningkatan teknologi tersebut, apalagi di era globlisasi teknologi ini, kegiatan kopersi semakin lebih mudah. Para anggotanya bisa melakukan transaksi secara/via Online dengan bantuan berbagai software yg mendukun kegiatan transaksi itu sendiri. Bukan itu saja, koperasi itu sendiri semakin mudah saja untuk memperluas jaringannya. Dengan begitu Perkembangan koperasi di Indonesia semakin pesat dan menjalar sampai ke pedesaan. Dengan begitu akan tercapai cita-cita Koperasi dan bangsa Indonesia, yakni mensejahterahkan anggota pada khususnya dan mensejahterakan masyarakat pada umumnya.
IV.              KESIMPULAN
Lembaga keuangan koperasi (koperasi simpan pinjam) perlu ditata ulang untuk menguatkan pembiayaan kegiatan ekonomi di lapisan terbawah. Terutama di daerah-daerah supaya usaha masyarakat daerah berkembang dan tercipta lapangan kerja baru yang semakin luas.

Referensi :
-Mubyarto ; Membangun Sistem Ekonomi, BPFE, Yogyakarta, 2000.
-Noer Soetrisno : Rekonstruksi Pemahaman Koperasi, Merajut Kekuatan Ekonomi Rakyat, Instrans, Jakarta 2001.