Diorama Hidupku
Sebuah karya dari Devie Destiarini
Aku masih terpaku di jendela kamarku.
Kurasa saat ini akulah orang yang paling menderita di dunia. Entahlah. Hujan dan
dinginnya angin malam pun tak bisa membuatku beranjak. Aku tak tahu apa yang
sebenarnya ada di pikirku. Banyak sekali hal yang sedang berebut tempat di
otakku. Hatiku pun ikut resah dan gundah. Seperti ada yang hilang. Boneka
beruang pink yang kupeluk sudah basah oleh tetesan air mataku yang terus
meleleh. Hingga lama-lama aku merasa lelah dan akhirnya aku tertidur.
Sepertinya sudah lama sekali waktu kulewati.
“Tok,tok,tok.”
“ Neng Rahma, bangun. Hari ini berangkat sekolah kan?”
Aku terbangun, karena seseorang mengetuk pintu kamarku.
Ternyata Bi Sami, pembantu rumah tanggaku. Ia sudah sepuh, tetapi kami tak
berniat sama sekali menggantinya, hanya mempekerjakan orang baru untuk
membantunya. Bi Sami sudah seperti keluarga, ia sangat dekat dengan kami
terutama aku. Jika ada masalah, aku selalu bercerita padanya. Yang semenjak kecil diasuhnya. Malah
kurasa ia lah yang lebih pantas kuanggap orang tua, dibanding orang tuaku
sendiri.
“Iya, Bi. Makasih.”
Dengan rasa malas, aku bangun dari kasur dan segera
menuju kamar mandi. Kusempat melirik cermin di dinding. Kulihat mataku yang
sembab dan merah, bekas menangis semalam. Sampai sekarang aku masih terbawa
emosinal perasaan semalam sehingga kepalaku terasa sangat pusing dan berat.
Aku tak sempat untuk sarapan, takut terlambat. Tetapi
seperti biasa Bi Sami selalu memaksaku untuk tetap sarapan barang sedikit saja.
Aku menolak dengan alasan nanti terlambat, jadi aku memintanya untuk menaruh
sepasang roti selai stroberi kesukaanku dalam kotak makan saja dan memakannya
saat di mobil. Sambil terburu-buru memakai
sepatu, aku sempatkan bertanya pada Bi Sami,
“Ayah sama bunda mana, Bi ?”
“Udah berangkat dari tadi, neng. Kayaknya buru-buru
banget sampe gak mau sarapan .” , jawabnya.
“Oh, mereka nanyain aku nggak?” , ujarku berharap.
“Mm..nggak, neng.” , jawabnya sambil tersenyum kecut
karena ia pasti tahu perasaanku.
Aku mengangguk. “Ya udah aku berangkat dulu ya, Bi.”
Ayah dan bunda memang orang yang sangat sibuk. Sampai-sampai
tidak punya waktu sama sekali untuk anak semata wayangnya ini. Jangankan untuk
pergi bersama, mengobrol pun menjadi kesempatan yang amat sulit. Ayahku, Galuh
Ageng Sutojo, mempunyai perusahaan yang
cukup besar dan mengelolanya sendiri. Dari dulu beliau memang sibuk, tetapi
tidak sesibuk sekarang. Sedangkan bundaku, Aranthi Mitya Ayu, seorang wanita
bisnis yang bertambah sibuk setelah usaha garmen dan butik yang dirintis
bersama teman-temannya semakin sukses. Mereka selalu pulang malam saat aku
sudah tidur. Jadi, sangat sulit bagiku untuk bertemu. Padahal kami tinggal di
satu atap. Miris memang. Dengan keadaan yang terus begitu, aku semakin kesepian
di rumah. Hanya ada Bi Sami, Mbak Inah, dan Mang Ading-sopirku.
Aku sudah pernah membicarakan hal ini pada mereka,
tetapi mereka menjawab semua ini dilakukan demi aku. Aku tak butuh yang lain
selain kasih sayang dan kehadiran mereka untukku. Mungkin hal ini juga lah yang
membuatku selalu sedih.
**
Di kelas, tak satupun pelajaran yang diterangkan guru
masuk ke dalam otakku. Aku tak bisa berkonsentrasi penuh karena masih terus
dibayangi masalah itu. Entah sampai kapan aku akan terus begini. Aku merasa
sangat kacau. Teman-temanku heran melihatku yang begini, tak bersemangat, menjadi
pendiam, dan pelamun. Aku memang dikenal sebagai pribadi yang aktif dan ceria.
Mereka tak pernah tahu aku sedang bermasalah, karena biasanya aku selalu
terlihat tanpa beban.
Di kantin aku masih melamun sampai tiba-tiba
seseorang datang mengejutkanku .
“ Hoy, ngelamun aja lo ! ”, ujar
Tasya, sahabat baikku sambil menepuk bahu. Di belakangnya ternyata ada Icha,
sahabatku juga. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka memposisikan duduk
di sampingku dan langsung menggencarkan beberapa pertanyaan padaku.
“Ma, lo lagi ada masalah ya? Lo
keliatan beda deh.” ,ucap Icha dengan tatapan heran.
“Iya nih, lo kenapa sih? Kalo ada
masalah, cerita dong ama gue. Siapa tau gue bisa bantu lo.” ,Tasya menimpali.
Tetapi aku masih saja diam sambil menundukkan kepala.
“Gue..gue..ah, nggak papa.” ,
jawabku sambil mengangkat kepala kemudian menundukkan lagi.
“Yah..jangan bikin penasaran donk. Kami
kan sahabat lo.” , ucap Tasya tidak sabar.
“Mm, ya udah. Pulang sekolah kalian
ke rumah gue aja. Gimana?”
“Oke deh. Kami akan selalu ada buat
lo, Ma.” , jawab mereka kompak.
Bel pulang berbunyi. Mang Ading
sudah menjemput dan menunggu di gerbang sekolah. Segera saja aku, Tasya, dan
Icha masuk mobil dan menuju ke rumahku. Sesampainya di rumah, aku langsung
menuju lantai atas, tempat kamarku berada. Tidak lupa aku meminta Mbak Inah
untuk membuat minuman dan membawa camilan untuk temanku.
“Ma, sebenernya lo lagi ada masalah
apa sih?”, tanya Icha begitu kami masuk kamar. Baru aku akan menjawab, Mbak
Inah masuk, jadi kutahan jawabanku. Setelah ia keluar, aku memulai ceritaku
dengan wajah sedih.
“Cha, Sya, selama ini gue nggak
pernah ngrasa bener-bener hidup bahagia. Gue sadar, kehidupan gue di atas
rata-rata orang kebanyakan. Apa aja ada. Tapi, mereka lebih beruntung. Bisa
selalu berbagi kasih sayang sama keluarganya. Sedangkan gue?? Ketemu sama ortu
aja jarang, apalagi ngumpul dan seru-seruan bareng. Boro-boro deh. Mereka itu
egois ! Nggak pernah merhatiin gue ! Gue kesepian di rumah. ” , ucapku sambil
terisak. Sahabatku hanya diam mendengarkan sambil mengelus punggungku.
“Munafik memang kalo bilang gue cuma
butuh kasih sayang mereka bukan materi. Tapi bukan itu prioritasnya, rasanya
nggak adil kalo hidup gue nggak bahagia.” , aku masih menangis. Mereka
menenangkanku, mencoba pahami perasaanku saat itu. Tetapi sebenarnya bukan
hanya itu masalahku. Hanya saja rasanya enggan untuk bercerita pada mereka. Aku
mencoba menutupi agar mereka yakin tak ada masalah lain.
“Ma, Cha, gimana kalo kita
jalan-jalan ke PIM aja? Buat nyegerin gitu..” , ucap Tasya tiba-tiba memecah
hening.
“Ide bagus tuh.” ,Icha menanggapi semangat.
Aku hanya tersenyum, aku masih merasa
sangat kacau , karenanya kuturuti saja saran mereka.
Kami bertiga pergi menggunakan mobil
Yaris merah milikku. Di sana aku merasa cukup terhibur dengan kegiatan kami.
Bermain game, melihat-lihat baju, mencoba sepatu, dan makan es krim karamel
kesukaanku. Ditambah lagi dengan kehadiran sahabat-sahabatku ini. Ya,
setidaknya aku masih punya orang yang sayang dan selalu ada untukku.
Kami sudah merasa lelah, hari juga
sudah gelap. Jadi, kami putuskan untuk pulang. Kedua sahabatku langsung kuantar
ke rumah mereka masing-masing. Hhh, hari
yang melelahkan, tetapi cukup menyenangkan sih , gumamku. Sehabis mengantar
mereka, aku masih malas untuk langsung pulang ke rumah. Aku memilih untuk
mencari makan dahulu.
Aku mampir ke sebuah restoran
makanan cepat saji, Pizza E Birra. Ya, pizza adalah salah satu makanan
favoritku. Aku memesan beberapa makanan dan minuman. Dengan rasa lapar, kulahap
semuanya.
Perutku sudah kenyang, kantuk pun
mulai menyerang. Sekarang aku ingin cepat pulang, karena takut menyetir saat
kantuk. Kulihat jam tangan berwarna ungu pemberian ayah, udah jam 9 malam rupanya, gumamku. Saat aku akan beranjak dari
kursiku, aku terbelalak melihat sosok yang tak asing bagiku masuk bersama
seorang lelaki muda bertubuh tinggi tegap yang juga seperti kukenal, merangkul
bahunya dengan mesra. Wanita itu ternyata…..Bunda ! Dan Lian !
Aku terkejut bukan kepalang, melihat
kejadian di depan mataku. Aku masih terpaku di tempatku. Rasanya seperti ada
petir yang menyambar, jantungku serasa akan berhenti, napasku jadi tak teratur.
Tiba-tiba ada rasa hangat mengalir lembut di pipiku. Air mataku jatuh tak
terbendung lagi. Aku tak tahu harus bagaimana.
Bunda belum menyadari keberadaanku,
ia terlihat sangat bahagia sambil tertawa-tawa manja. Tuhaaan, apa ini??!! . Aku tak kuat lagi. Aku langsung berlari ke
arah pintu. Sepertinya bunda baru menyadari itu aku. Ia terlihat sangat
terkejut dan memanggil-panggil namaku. Aku tak peduli. Aku kecewa, sungguh amat
sangat kecewa! Aku tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh orang-orang di
sekitarku. Lalu aku memacu kencang mobilku dengan rasa marah, kecewa,
sedih bercampur jadi satu. Air mataku keluar sangat deras, aku sesenggukan.
Sampai di rumah, aku langsung
mengunci diri dalam kamar. Membanting tubuh ke kasur sambil terus menangis. Aku
memukul-pukulkan tanganku ke bantal sekuat tenaga.
“Ya Tuhan, cobaanmu sungguh beraat.”
, ucapku terbata.
Tak lama aku tertidur dengan
lelapnya karena sangat kelelahan. Secara fisik maupun perasaan. Aku sungguh
masih belum bisa memercayai apalagi
menerima kejadian yang terjadi padaku tadi.
**
Aku terbangun di tengah malam. Aku
haus. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 00.37 . Aku terkejut mendengar
suara seseorang marah-marah. Suara itu sepertinya berasal dari kamar ayah dan
bunda. Ya, kamarku dan kamar orang tuaku berada di satu lantai. Jaraknya tidak
terlalu dekat, namun suara itu dapat terdengar olehku. Aku menduga mereka
sedang bertengkar. Tak tahu apa sebabnya. Suatu kali aku juga pernah mendengar
mereka bertengkar begitu. Aku merasa sangat pusing dengan semua ini. Aku menangis lagi.
Sepertinya ini masalah yang sangat berat untuk kupikul sendirian.
Aku kembali mendekap guling dan
merapatkan selimut, mencoba untuk kembali menenangkan diri dalam tidur. Dalam
hangat selimut aku terus bertekad untuk tidak menyerah menghadapi ujian dari
Tuhan ini. Aku harus tetap kuat, tetap sabar, tetap bersyukur , dan selalu
berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku yakin Tuhan pasti punya rencaha hebat di
balik semua ini. Aku mulai tenang lagi, dan tersenyum. Kemudian aku kembali terlelap.
**
Seberkas sinar matahari pagi
menyusup ke dalam kamarku dari celah tirai. Membuatku kembali terjaga. Aku
merasa lebih baik sekarang. Yah, walau aku masih dilanda syok berat atas
kejadian semalam. Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka.
Syukurlah dalam kamarku ada kamar mandi dan kulkas. Memudahakanku agar tidak
perlu repot keluar kamar. Karena jujur, sampai sekarang aku masih enggan untuk
melihat bunda.
Karena hari ini hari Sabtu, aku
libur. Lumayan untuk istirahat. Aku berencana untuk tidak kemana-mana, termasuk
keluar kamar. Aku lebih memilih tetap di kamar untuk menghindar dari bunda.
Setelah merapikan kamar, aku merasa ingin sekali membuka album foto yang
tersimpan di lemari kecil di bawah rak buku jumbo milikku. Ya, aku memang suka
membaca. Hampir semua jenis bacaan aku suka. Dari yang bertopik berat sampai
yang ringan. Sedari kecil ayah sudah membiasakanku unutk gemar membaca. Ayah,
ah. Aku jadi teringat. Aku merasa kasihan kepada ayah, yang jungkir balik
menafkahi keluarga hingga menjadi sesukses sekarang. Mengapa bunda begitu?? Tidak
bisakah bunda menghargai ayah?? Ternyata bunda sangat tega ! Aku tidak bisa
terima. Ah, aku menangis lagi.
Kubuka satu demi satu halaman album
foto. Di situ kami sekeluarga tertawa-tawa senang, aku sedang digendong di bahu
ayah. Aku berpikir, seandainya kami bisa terus begini. Ah… masa lalu adalah
masa lalu. Yang tak mungkin bisa kuulang, makanya aku bertekad untuk tetap
berusaha sebaik mungkin agar tidak menyesal nantinya. Aku juga tak ingin
menyimpan dendam di hati, apalagi kepada bunda, wanita yang melahirkanku. Aku
ingin sekali memberitahu ayah soal itu, tapi aku bingung bagaimana caranya agar
tidak melukai hati mereka berdua. Aku sebal pada diriku sendiri. Mengapa tak
bisa membantu menyelesaikan masalah keluargaku sendiri???
Aku duduk mendekati jendela kamar
yang menghadap lngsung ke arah taman dan kolam renang di samping rumah. Indah
sekali. Namun, betapapun indahnya bagi hati yang sedang gundah terasa tak
menarik. Aku menghela napas panjang. Aku mencoba mengingat-ingat semua kejadian
dalam hidupku.
Aku terlahir di keluarga yang serba
kecukupan. Orang tuaku memberi nama Rahmashya Glorinayara Sutojo. Kini usiaku
menginjak tujuh belas tahun dan duduk di bangku kelas XI. Kegemaranku adalah
berenang dan bermain piano dan aku merupakan atlet renang andalan sekolah, jadi
bisa dipastikan tubuhku tinggi semampai. Sedang untuk piano aku sudah menyabet
berbagai juara untuknya. Aku tidak terlalu mementingkan fesyen. Gayaku dalam
berpenampilan sederhana saja. Dengan potongan rambut panjang, aku terlihat sangat
feminin. Aku anak tunggal, hampir semua keinginanku pasti dipenuhi. Walaupun begitu
aku tidak merasa cukup bahagia dengan semua itu. Bukannya aku tak bersyukur,
aku selalu bersyukur pada Tuhan atas semuanya. Tetapi apakah untuk mengimbangi
semua itu, aku harus mendapatkan sesuatu yang disebut ‘timbal baliknya’??
Seperti keluarga tidak harmonis, ibu yang selingkuh, juga kehidupan
percintaanku yang semrawut.
Seperti yang sebelumnya pernah
kukatakan, ‘masalahku bukan hanya itu’. Ada lagi cerita yang kupendam selama
ini. Ya, tak lain dan tak bukan mengenai kehidupan asmaraku. Kira-kira lima bulan yang
lalu, ada seorang cowok yang menyatakan perasaannya padaku. Ia adalah teman
sekolahku, kami sekelas. Saat itu ia mengajakku pergi dengan alasan ingin
mencari buku. Aku sebenarnya kurang yakin dengan ucapannya. Tetapi aku merasa
tidak enak menolaknya.
Di toko buku, saat keadaan dirasanya sepi, ia mulai
berbicara,
“Ma, gue suka sama lo. Dan bukan
cuma suka, gue sayang sama lo.”, ucap Filian, cowok itu. Aku diam terkejut,
jelas sekali di wajahku.
“Hah? A..a..a..gue…” , aku bingung.
“Mau gak lo jadi pacar gue?” ,
semakin terkejut saja diriku. Aku tak tahu, harus mengiyakan atau tidak. Aku
tidak terlalu mengenalnya. Perasaanku padanya pun biasa saja. Kami baru kenal
selama tiga bulan. Tetapi, kurasa ia orang yang cukup baik. Jadi, apa salahnya
bila kucoba. Akhirnya, aku menerimanya. Ia terlihat sangat girang.
Setelah mengambil beberapa buku yang ternyata memang
ia ingin beli, kami pergi ke kasir dengan bergandengan dan terus saling
melempar senyum. Ya, maklumlah pasangan baru.
Filian adalah bintang basket
sekolah. Ia berwajah cukup tampan, bertubuh tinggi tegap, dan gayanya terlihat
keren. Jadi, bisa disimpulkan ia merupakan salah satu cowok yang paling diidamkan
cewek-cewek sekolah kami. Tetapi, alasanku menerimanya bukan karena itu. Aku
sama sekali tidak tergoda. Itu hanya nilai plus saja.
Berangkat sekolah, aku masih tetap
diantar jemput Mang Ading. Aku dan Filian tidak berangkat bersama, kami memilih
untuk tidak menggembar-gemborkan hubungan kami. Sebenarnya, itu keinginannya.
Ia beralasan demi aku, agar tidak menjadi sasaran gosip dan cewek-cewek yang
terobsesi padanya. Aku menurut saja, karena aku memercayainya.
Sepanjang pelajaran, Lian-panggilan
akrabnya, melihat ke arahku terus. Aku sebenarnya agak risi. Apalagi ketika
guru memergokinya, duh, malunya aku. Icha dan Tasya sahabatku berada di kelas
yang berbeda. Jadi aku bisa menutupi hubunganku. Walaupun mereka sahabatku,
Lian tetap tak mengizinkanku memberitahukan hubungan kami pada mereka .
**
Tiga bulan sudah hubungan kami
berjalan. Tetapi selama itu baru satu kali ia mengajakku pergi berkencan saat
awal-awal kami berpacaran. Aku heran, setiap kali aku ajak pergi ia selalu
berdalih sedang sibuk latihan basket ataupun ada kumpul penting klub basket
kesayangannya itu. Menghubungiku pun hanya disaat ia butuh sesuatu atau aku
yang menghubunginya lebih dulu.Padahal aku juga harus tetap latihan bersama
klub renangku dan memenuhi undangan untuk menjadi pianis suatu acara. Tapi, aku masih bisa menyempatkan
waktu untuknya.
Lama-lama aku mulai curiga padanya. Kepercayaan yang
selama ini kuberi mulai goyah. Akhirnya, aku berinisiatif untuk mencari
informasi. Selama satu minggu, aku mencoba mengikuti segala kegiatannya.
Sebelumnya aku menelponnya, sedang ada kegiatan apa. Dan selama itu ia jujur. Aku mulai memercayainya lagi.
Namun, di akhir minggu sesuatu terjadi.
Aku memergokinya sedang berjalan-jalan di sebuh mal dengan seorang cewek, dan sepertinya
salah satu fan-nya. Ia merangkul bahu cewek itu dengan erat. Aku merasa sangat
cemburu dan marah. Mereka memasuki sebuah kafe dan mengambil tempat duduk di
dekat jendela kaca, membuatku mudah melihat. Aku melihat Lian menggenggam
tangan cewek itu sambil mengatakan sesuatu yang tak dapat kudengar. Dan
tiba-tiba Lian mencium kening cewek itu. Aku terkejut dan sangat kecewa
padanya. Kepercayaan yang selama ini kuberi, kini benar-benar musnah. Tega nian dia menghianatiku. Sambil
menangis dan penuh amarah,
aku pergi dari tempatku mengawasi. Aku
benci kalian! Benci ! Dasar laki-laki buaya ! Argh !
Setiba di rumah aku langsung lari
menuju kamar. Saat itu tumben sekali bunda sudah pulang. Beliau melihatku dan
langsung mencegatku. Tangisku pecah lagi, tetapi aku tak ingin bercerita
apa-apa. Aku hanya ingin menenangkan diri. Jadi, aku langsung menghindarinya
dan pergi. Tak kuhiraukan panggilannya.
Aku datang ke sekolah agak terlambat,
tujuannya agar Lian tidak berkesempatan menghampiriku. Saat istirahat, aku
mengajak Icha dan Tasya ke kantin. Aku berpapasan dengan Lian. Ia tersenyum
padaku, tapi aku membuang muka. Aku sangat kesal dengannya. Ia membiarkanku
pergi dengan tatapan heran. Tak kupedulikan. Tiba-tiba telepon genggamku
berdering. Ada pesan dari Lian.
‘sayang,
kamu marah sama aku? Aku salah apa?’
Lian
Cih, apa sih maunya? Dasar cowok
buaya! Sengaja tak kubalas pesannya. Namun, ia tak tinggal diam. Pulang sekolah
ia mencegatku dan menarikku ke tempat yang lebih sepi agar tak ada yang
melihat.
“Kamu kenapa sih ? Seharian kamu
cuekin aku. Nggak enak tau rasanya?!” , ujarnya dengan nada meninggi.
“Lo nggak sadar sama apa yang udah lo
lakuin ke gue?? Lo selingkuh !” , balasku tanpa basa basi.
“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak
mungkin hianatin kamu, sayang.” , ia mencoba meyakinkanku.
“Jangan boong lo ! Gue liat sendiri.
Ini buktinya.” , kutunjukkan fotonya bersama cewek itu. Ya, waktu itu aku
diam-diam memotret mereka. Untuk barang bukti. Ia membelalakkan matanya, terlihat
sekali keterkejutan di wajahnya.
“E..e..i.. ini..inii.. Nggak, itu
bukan aku. Kamu salah liat kali.” , ucapnya mecoba berkelit.
“Eh, dulu lo ngejar-ngejar gue. Lo
bilang sayang sama gue. Nggak bakal hianatin gue. Tapi sekarang apa?? Lo tega
banget. Sakiiit tau rasanya !” , ucapku sambil mendorong tubuhnya.
“Mulai sekarang kita putus!!”,
sambungku sambil berlari meninggalkannya. Kali ini tak ada air mata. Sayang
sekali bila air mataku ini hanya untuk menangisi seorang cowok tak berperasaan
sepertinya.
Mulai saat itulah aku memilih untuk
tidak berurusan dahulu dengan lelaki. Ada sedikit trauma di diriku. Tapi, aku
tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku masih menyimpan rasa, ternyata aku
sayang padanya. Sungguh sulit bagiku menghapus semua itu. Apalagi setiap hari
aku bertemu dengannya di kelas. Hampir setiap malam aku teringat pada Lian. Tak
jarang aku menangis, ditambah lagi dengan masalah keluargaku.
**
Suatu hari aku pulang
sekolah. Ada kedua orang tuaku di rumah, mereka seperti sudah menungguku. Wajah
mereka terlihat sangat serius. Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang telah
terjadi pada mereka. Entahlah. Ketika aku baru saja tiba, mereka menyuruhku
untuk segera berganti pakaian. Ada sesuatu yang akan mereka bicarakan padaku.
Dengan perasaan heran, aku menuruti perintah mereka saja.
Aku telah duduk
berhadapan dengan kedua orang tuaku. Mereka menatapku tajam. Ayah yang memulai
pembicaraan.
“Rahma, ada sesuatu
yang perlu kamu tau.” , buka ayah.
“Apa, yah?” , ucapku
tak mengerti.
“Kami..kami tahu ini
keputusan yang berat. Tapi kami yakin inilah yang terbaik.”,lanjut ayah.
Aku belum mengerti
kemana arah pembicaraan ini berjalan. “Maksudnya, yah? Aku jadi makin bingung. Sebenarnya
ada apa sih dengan kalian?”, ucapku sedikit mendesak.
“Sayang, kami memutuskan untuk
berpisah.” , bunda menimpali sambil menunduk. Terlihat beliau takut-takut
menatapku.
Mataku terbelalak
terkejut. Bagai petir di siang bolong menyambar dadaku tiba-tiba. Sesaaak sekali
rasanya. “A..apa maksudnya? K..kenapa ayah,bunda mau cerai?? Kalian nggak
sayang sama aku? Apa kalian nggak tau kalo selama ini kesibukan kalian aja udah
beban buat aku?? Ketidakpedulian kalian juga udah menyakiti aku. Kalian nggak
pernah sadar itu kan??” , responku spontan. Aku berlari, menuju kamarku,
menguncinya, dan menangis sejadinya. Aku kacau. Aku seperti hilang pijakan. Aku
sadari ucapanku tadi kasar dan tak pantas, tapi aku terlalu terpukul untuk
mencari kata yang lebih sopan agar mereka mengerti.
Rasanya ingin sekali aku pergi
meninggalkan dunia ini, aku terlalu rapuh menerima semuanya. Tapi keluhku pada
Tuhan rasanya takkan pantas, nikmat hidup yang diberiNya terlalu luar biasa. Aku
limpung. Ada masalah yang rasanya tak kuat kutagguh. Saat pijakanku goyah
begini, hanya kepadaNya aku berlari. “Tuhan, maafkan aku…Aku jauh dariMu selama
ini. Kau menarikku mendekat dengan masalah ini. Terima kasih, Tuhan. Kau masih
menyayangiku….Aku yakin.”
Meskipun tak tahu hari-hari esok kan
seperti apa, aku mencoba menenangkan pikiran kacauku. Semoga aku bisa, semoga…..
**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar