Selasa, 30 Desember 2014

KOPERASI



PERKEMBANGAN KOPERASI DI INDONESIA

Pada dasarnya lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. Strata ini biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah kebawah. Eksistensi koperasi memang merupakan suatu fenomena tersendiri, sebab tidak satu lembaga sejenis lainnya yang mampu menyamainya, tetapi sekaligus diharapkan menjadi penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya. Lembaga koperasi oleh banyak kalangan, diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan  bangsa Indonesia. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri, kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong), dan beberapa esensi moral lainnya. Sangat banyak orang mengetahui tentang koperasi meski belum tentu sama pemahamannya, apalagi juga hanya sebagian kecil dari populasi bangsa ini yang mampu berkoperasi secara benar dan konsisten. Sejak kemerdekaan diraih, organisasi koperasi selalu memperoleh tempat sendiri dalam struktur perekonomian dan mendapatkan perhatian dari pemerintah. 


Keberadaan koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat ditilik dari sisi usianyapun yang sudah lebih dari 50 tahun berarti sudah relatif matang. Sampai dengan bulan November 2001, misalnya, berdasarkan data Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000 orang. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998  mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumlah koperasi aktif per-November 2001, sebanyak 96.180 unit (88,14 persen). Hingga tahun 2004 tercatat 130.730, tetapi yang aktif mencapai 28,55%, sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35,42% koperasi saja. Data terakhir tahun 2006 ada 138.411 unit dengan anggota 27.042.342 orang akan tetapi yang aktif 94.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.703 unit.


Namun uniknya, kualitas perkembangannya selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. Juga, secara makro pertanyaan yang paling mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap  Produk Domestik Bruto (PDB), pengentasan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja. Sedangkan secara mikro pertanyaan yang mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya.  Menurut Merza (2006), dari segi kualitas, keberadaan koperasi masih  perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk ditingkatkan mengikuti tuntutan lingkungan dunia usaha dan lingkungan kehidupan dan kesejahteraan para anggotanya. Pangsa koperasi dalam berbagai kegiatan ekonomi masih relatif kecil, dan ketergantungan koperasi terhadap bantuan dan perkuatan dari pihak luar, terutama Pemerintah, masih sangat besar.3Jadi, dalam kata lain, di Indonesia, setelah  lebih dari 50 tahun keberadaannya, lembaga yang namanya koperasi  yang diharapkan menjadi pilar atau soko guru perekonomian nasional dan juga lembaga gerakan ekonomi rakyat ternyata tidak berkembang baik seperti di negara-negara maju (NM). Oleh karena itu tidak heran kenapa peran koperasi di dalam perekonomian Indonesia masih sering dipertanyakan dan selalu menjadi bahan perdebatan  karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya.


Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12 Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi (Soetrisno, 2003).


Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. Strata ini biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah kebawah. Eksistensi koperasi memang merupakan suatu fenomena tersendiri, sebab tidak satu lembaga sejenis lainnya yang mampu menyamainya, tetapi sekaligus diharapkan menjadi penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya. Lembaga koperasi oleh banyak kalangan, diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan  bangsa Indonesia. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri, kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong), dan beberapa esensi moral lainnya. Sangat banyak orang mengetahui tentang koperasi meski belum tentu sama pemahamannya, apalagi juga hanya sebagian kecil dari populasi bangsa ini yang mampu berkoperasi secara benar dan konsisten. Sejak kemerdekaan diraih, organisasi koperasi selalu memperoleh tempat sendiri dalam struktur perekonomian dan mendapatkan perhatian dari pemerintah.  Keberadaan koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat ditilik dari sisi usianyapun yang sudah lebih dari 50 tahun berarti sudah relatif matang. Sampai dengan bulan November 2001, berdasarkan data Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), jumlah koperasi di seluruh  Indonesia tercatat sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000 orang. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumlah koperasi aktif per-5November 2001, sebanyak 96.180 unit (88,14 persen). Hingga  tahun 2004 tercatat 130.730, tetapi yang aktif mencapai 28,55%, sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35,42% koperasi saja. Data terakhir tahun 2006 ada 138.411 unit dengan anggota 27.042.342 orang akan tetapi yang aktif 94.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.703 unit.  Namun uniknya, kualitas perkembangannya selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. Juga, secara makro pertanyaan yang paling mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap  Produk Domestik Bruto (PDB), pengentasan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja. Sedangkan secara mikro pertanyaan yang mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya.  Menurut Merza (2006), dari segi kualitas, keberadaan koperasi masih  perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk ditingkatkan mengikuti tuntutan lingkungan dunia usaha dan lingkungan kehidupan dan kesejahteraan para anggotanya. Pangsa koperasi dalam berbagai kegiatan ekonomi masih relatif kecil, dan ketergantungan koperasi terhadap bantuan dan perkuatan dari pihak luar, terutama Pemerintah, masih sangat besar.


Dari hasil survey  kondisi koperasi di Indonesia saat ini sangat memperihatinkan. Sebanyak 27 persen dari 177.000 koperasi yang ada di Indonesia atau sekitar 48.000 koperasi kini tidak aktif. Hal itu mengindikasikan kondisi koperasi di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. “Angka koperasi yang tidak aktif memang cukup tinggi. Saat ini jumlah koperasi di Indonesia ada sekitar 177 ribu dan yang tidak aktif mencapai 27 persen,” jelas Guritno Kusumo, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM. Ia mengatakan, ada bebeapa faktor penyebab banyaknya koperasi tidak aktif, di antaranya pengelolaan yang tidak profesional. Namun demikian hingga kini kementerian masih melakukan pendataan untuk mengetahui hal tersebut. Dalam hal ini, kementrian terus melakukan pengkajian. Rencananya koperasi yang tidak sehat tersebut akan dipilah sesuai kondisinya. Namun bila sudah tidak ada pengurusnya, koperasi yang tidak aktif tersebut akan dibubarkan.

Sabtu, 20 Desember 2014

TUGAS 2



EVALUASI DEFINISI KOPERASI

Pengertian
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum yang berlandaskan pada asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Kegiatan usaha koperasi merupakan penjabaran dari UUD 1945 pasal 33 ayat (1). Dengan adanya penjelasan UUD 1945 Pasal 33 ayat (1) koperasi berkedudukan sebagai soko guru perekonomian nasional dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem perekonomian nasional.
Sebagai salah satu pelaku ekonomi, koperasi merupakan organisasi ekonomi yang berusaha menggerakkan potensi sumber daya ekonomi demi memajukan kesejahteraan anggota. Karena sumber daya ekonomi tersebut terbatas, dan dalam mengembangkan koperasi harus mengutamakan kepentingan anggota, maka koperasi harus mampu bekerja seefisien mungkin dan mengikuti prinsipprinsip koperasi dan kaidah-kaidah ekonomi.
Koperasi adalah suatu kumpulan orang – orang untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak social dan beranggotakan orang – orang, badan – badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Koperasi berkaitan dengan fungsi – fungsi :
  • fungsi sosial
  • fungsi ekonomi
  • fungsi politik
  • fungsi etika
A.     Definisi Koperasi menurut ILO
Dalam definisi ILO terdapat 6 elemen yang dikandung dalam koperasi, yaitu :
·         Koperasi adalah perkumpulan orang-orang.
·         Penggabungan orang-orang berdasarkan kesukarelaan.
·         Terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai.
·         Koperasi berbentuk organisasi bisnis yang diawasi dan dikendalikan secara demokratis.
·         Terdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang dibutuhkan
·         Anggota koperasi menerima resiko dan manfaat secara seimbang

B.      Definisi Koperasi menurut Chaniago
Menurut drs. Arifinal Chaniago (1984) dalam bukunya Perkoperasian Indonesia, “ Koperasi adalah suatu perkumpulan yang beranggotakan orang – orang atau badan hukum yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya”.

C.      Definisi Koperasi menurut Dooren
Menurut P.J.V. Dooren tidak ada satu definisi koperasi yang diterima secara umum. Disini Dooren memperluas pengertian koperasi, dimana koperasi tidak hanya kumpulan orang-orang melainkan juga kumpulan badan-badan hukum.

D.     Definisi Koperasi menurut Hatta
Definisi koperasi menurut “Bapak Koperasi Indonesia” Moh. Hatta adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong.

E.      Definisi Koperasi menurut Munkner
Munkner mendefinisikan koperasi sebagai organisasi tolong – menolong yang menjalankan “urusniaga” secara kumpulan, yang berazaskan konsep tolong – menolong. Aktivitas dalam urusniaga semata – mata bertujuan ekonomi, bukan social seperti yang dikandung gotong – royong.

F.       Definisi UU No.25 / 1992
Koperasi adalaah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat, yang berdasar atas azas kekeluargaan.
5 unsur koperasi Indonesia
  • Koperasi adalah badan usaha
  • Koperasi adalah kumpulan orang – orang atau badan hukum koperasi
  • Koperasi Indonesia , koperasi yang bekerja berdasarkan prinsip – prinsip koperasi
  • Koperasi Indonesia adalah gerakan ekonomi rakyat
  • Koperasi Indonesia berazaskan kekeluargaan
Tujuan Koperasi

Berdasarkan UU No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 3 , tujuan koperasi adalah memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional , dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Referensi  :

Rabu, 12 November 2014

Tulisan 1



Diorama Hidupku



Sebuah karya dari Devie Destiarini



Aku masih terpaku di jendela kamarku. Kurasa saat ini akulah orang yang paling menderita di dunia. Entahlah. Hujan dan dinginnya angin malam pun tak bisa membuatku beranjak. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada di pikirku. Banyak sekali hal yang sedang berebut tempat di otakku. Hatiku pun ikut resah dan gundah. Seperti ada yang hilang. Boneka beruang pink yang kupeluk sudah basah oleh tetesan air mataku yang terus meleleh. Hingga lama-lama aku merasa lelah dan akhirnya aku tertidur. Sepertinya sudah lama sekali waktu kulewati.
            “Tok,tok,tok.”
“ Neng Rahma, bangun. Hari ini berangkat sekolah kan?”
Aku terbangun, karena seseorang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Bi Sami, pembantu rumah tanggaku. Ia sudah sepuh, tetapi kami tak berniat sama sekali menggantinya, hanya mempekerjakan orang baru untuk membantunya. Bi Sami sudah seperti keluarga, ia sangat dekat dengan kami terutama aku. Jika ada masalah, aku selalu bercerita padanya. Yang semenjak kecil diasuhnya. Malah kurasa ia lah yang lebih pantas kuanggap orang tua, dibanding orang tuaku sendiri.
“Iya, Bi. Makasih.”
Dengan rasa malas, aku bangun dari kasur dan segera menuju kamar mandi. Kusempat melirik cermin di dinding. Kulihat mataku yang sembab dan merah, bekas menangis semalam. Sampai sekarang aku masih terbawa emosinal perasaan semalam sehingga kepalaku terasa sangat pusing dan berat.
Aku tak sempat untuk sarapan, takut terlambat. Tetapi seperti biasa Bi Sami selalu memaksaku untuk tetap sarapan barang sedikit saja. Aku menolak dengan alasan nanti terlambat, jadi aku memintanya untuk menaruh sepasang roti selai stroberi kesukaanku dalam kotak makan saja dan memakannya saat di mobil.  Sambil terburu-buru memakai sepatu, aku sempatkan bertanya pada Bi Sami,
“Ayah sama bunda mana, Bi ?”
“Udah berangkat dari tadi, neng. Kayaknya buru-buru banget sampe gak mau sarapan .” , jawabnya.
“Oh, mereka nanyain aku nggak?” , ujarku berharap.
“Mm..nggak, neng.” , jawabnya sambil tersenyum kecut karena ia pasti tahu perasaanku.
Aku mengangguk. “Ya udah aku berangkat dulu ya, Bi.”
Ayah dan bunda memang orang yang sangat sibuk. Sampai-sampai tidak punya waktu sama sekali untuk anak semata wayangnya ini. Jangankan untuk pergi bersama, mengobrol pun menjadi kesempatan yang amat sulit. Ayahku, Galuh Ageng Sutojo,  mempunyai perusahaan yang cukup besar dan mengelolanya sendiri. Dari dulu beliau memang sibuk, tetapi tidak sesibuk sekarang. Sedangkan bundaku, Aranthi Mitya Ayu, seorang wanita bisnis yang bertambah sibuk setelah usaha garmen dan butik yang dirintis bersama teman-temannya semakin sukses. Mereka selalu pulang malam saat aku sudah tidur. Jadi, sangat sulit bagiku untuk bertemu. Padahal kami tinggal di satu atap. Miris memang. Dengan keadaan yang terus begitu, aku semakin kesepian di rumah. Hanya ada Bi Sami, Mbak Inah, dan Mang Ading-sopirku.
Aku sudah pernah membicarakan hal ini pada mereka, tetapi mereka menjawab semua ini dilakukan demi aku. Aku tak butuh yang lain selain kasih sayang dan kehadiran mereka untukku. Mungkin hal ini juga lah yang membuatku selalu sedih.
**
Di kelas, tak satupun pelajaran yang diterangkan guru masuk ke dalam otakku. Aku tak bisa berkonsentrasi penuh karena masih terus dibayangi masalah itu. Entah sampai kapan aku akan terus begini. Aku merasa sangat kacau. Teman-temanku heran melihatku yang begini, tak bersemangat, menjadi pendiam, dan pelamun. Aku memang dikenal sebagai pribadi yang aktif dan ceria. Mereka tak pernah tahu aku sedang bermasalah, karena biasanya aku selalu terlihat tanpa beban.
            Di kantin aku masih melamun sampai tiba-tiba seseorang datang mengejutkanku .
            “ Hoy, ngelamun aja lo ! ”, ujar Tasya, sahabat baikku sambil menepuk bahu. Di belakangnya ternyata ada Icha, sahabatku juga. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka memposisikan duduk di sampingku dan langsung menggencarkan beberapa pertanyaan padaku.
            “Ma, lo lagi ada masalah ya? Lo keliatan beda deh.” ,ucap Icha dengan tatapan heran.
            “Iya nih, lo kenapa sih? Kalo ada masalah, cerita dong ama gue. Siapa tau gue bisa bantu lo.” ,Tasya menimpali. Tetapi aku masih saja diam sambil menundukkan kepala.
            “Gue..gue..ah, nggak papa.” , jawabku sambil mengangkat kepala kemudian menundukkan lagi.
            “Yah..jangan bikin penasaran donk. Kami kan sahabat lo.” , ucap Tasya tidak sabar.
            “Mm, ya udah. Pulang sekolah kalian ke rumah gue aja. Gimana?”
            “Oke deh. Kami akan selalu ada buat lo, Ma.” , jawab mereka kompak.
            Bel pulang berbunyi. Mang Ading sudah menjemput dan menunggu di gerbang sekolah. Segera saja aku, Tasya, dan Icha masuk mobil dan menuju ke rumahku. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju lantai atas, tempat kamarku berada. Tidak lupa aku meminta Mbak Inah untuk membuat minuman dan membawa camilan untuk temanku.
            “Ma, sebenernya lo lagi ada masalah apa sih?”, tanya Icha begitu kami masuk kamar. Baru aku akan menjawab, Mbak Inah masuk, jadi kutahan jawabanku. Setelah ia keluar, aku memulai ceritaku dengan wajah sedih.
            “Cha, Sya, selama ini gue nggak pernah ngrasa bener-bener hidup bahagia. Gue sadar, kehidupan gue di atas rata-rata orang kebanyakan. Apa aja ada. Tapi, mereka lebih beruntung. Bisa selalu berbagi kasih sayang sama keluarganya. Sedangkan gue?? Ketemu sama ortu aja jarang, apalagi ngumpul dan seru-seruan bareng. Boro-boro deh. Mereka itu egois ! Nggak pernah merhatiin gue ! Gue kesepian di rumah. ” , ucapku sambil terisak. Sahabatku hanya diam mendengarkan sambil mengelus punggungku.
            “Munafik memang kalo bilang gue cuma butuh kasih sayang mereka bukan materi. Tapi bukan itu prioritasnya, rasanya nggak adil kalo hidup gue nggak bahagia.” , aku masih menangis. Mereka menenangkanku, mencoba pahami perasaanku saat itu. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu masalahku. Hanya saja rasanya enggan untuk bercerita pada mereka. Aku mencoba menutupi agar mereka yakin tak ada masalah lain.
            “Ma, Cha, gimana kalo kita jalan-jalan ke PIM aja? Buat nyegerin gitu..” , ucap Tasya tiba-tiba memecah hening.
            “Ide bagus tuh.” ,Icha menanggapi semangat. Aku hanya tersenyum, aku  masih merasa sangat kacau , karenanya kuturuti saja saran mereka.
            Kami bertiga pergi menggunakan mobil Yaris merah milikku. Di sana aku merasa cukup terhibur dengan kegiatan kami. Bermain game, melihat-lihat baju, mencoba sepatu, dan makan es krim karamel kesukaanku. Ditambah lagi dengan kehadiran sahabat-sahabatku ini. Ya, setidaknya aku masih punya orang yang sayang dan selalu ada untukku.
            Kami sudah merasa lelah, hari juga sudah gelap. Jadi, kami putuskan untuk pulang. Kedua sahabatku langsung kuantar ke rumah mereka masing-masing. Hhh, hari yang melelahkan, tetapi cukup menyenangkan sih , gumamku. Sehabis mengantar mereka, aku masih malas untuk langsung pulang ke rumah. Aku memilih untuk mencari makan dahulu.
            Aku mampir ke sebuah restoran makanan cepat saji, Pizza E Birra. Ya, pizza adalah salah satu makanan favoritku. Aku memesan beberapa makanan dan minuman. Dengan rasa lapar, kulahap semuanya.
            Perutku sudah kenyang, kantuk pun mulai menyerang. Sekarang aku ingin cepat pulang, karena takut menyetir saat kantuk. Kulihat jam tangan berwarna ungu pemberian ayah, udah jam 9 malam rupanya, gumamku. Saat aku akan beranjak dari kursiku, aku terbelalak melihat sosok yang tak asing bagiku masuk bersama seorang lelaki muda bertubuh tinggi tegap yang juga seperti kukenal, merangkul bahunya dengan mesra. Wanita itu ternyata…..Bunda ! Dan Lian !
            Aku terkejut bukan kepalang, melihat kejadian di depan mataku. Aku masih terpaku di tempatku. Rasanya seperti ada petir yang menyambar, jantungku serasa akan berhenti, napasku jadi tak teratur. Tiba-tiba ada rasa hangat mengalir lembut di pipiku. Air mataku jatuh tak terbendung lagi. Aku tak tahu harus bagaimana.
            Bunda belum menyadari keberadaanku, ia terlihat sangat bahagia sambil tertawa-tawa manja. Tuhaaan, apa ini??!! . Aku tak kuat lagi. Aku langsung berlari ke arah pintu. Sepertinya bunda baru menyadari itu aku. Ia terlihat sangat terkejut dan memanggil-panggil namaku. Aku tak peduli. Aku kecewa, sungguh amat sangat kecewa! Aku tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh orang-orang di sekitarku. Lalu aku memacu kencang mobilku dengan rasa marah, kecewa, sedih bercampur jadi satu. Air mataku keluar sangat deras, aku sesenggukan.
            Sampai di rumah, aku langsung mengunci diri dalam kamar. Membanting tubuh ke kasur sambil terus menangis. Aku memukul-pukulkan tanganku ke bantal sekuat tenaga.
            “Ya Tuhan, cobaanmu sungguh beraat.” , ucapku terbata.
            Tak lama aku tertidur dengan lelapnya karena sangat kelelahan. Secara fisik maupun perasaan. Aku sungguh masih belum bisa memercayai apalagi  menerima kejadian yang terjadi padaku tadi.
**
            Aku terbangun di tengah malam. Aku haus. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 00.37 . Aku terkejut mendengar suara seseorang marah-marah. Suara itu sepertinya berasal dari kamar ayah dan bunda. Ya, kamarku dan kamar orang tuaku berada di satu lantai. Jaraknya tidak terlalu dekat, namun suara itu dapat terdengar olehku. Aku menduga mereka sedang bertengkar. Tak tahu apa sebabnya. Suatu kali aku juga pernah mendengar mereka bertengkar begitu. Aku merasa sangat pusing dengan semua ini. Aku menangis lagi. Sepertinya ini masalah yang sangat berat untuk kupikul sendirian.
            Aku kembali mendekap guling dan merapatkan selimut, mencoba untuk kembali menenangkan diri dalam tidur. Dalam hangat selimut aku terus bertekad untuk tidak menyerah menghadapi ujian dari Tuhan ini. Aku harus tetap kuat, tetap sabar, tetap bersyukur , dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku yakin Tuhan pasti punya rencaha hebat di balik semua ini. Aku mulai tenang lagi, dan tersenyum. Kemudian aku kembali terlelap.
**
            Seberkas sinar matahari pagi menyusup ke dalam kamarku dari celah tirai. Membuatku kembali terjaga. Aku merasa lebih baik sekarang. Yah, walau aku masih dilanda syok berat atas kejadian semalam. Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Syukurlah dalam kamarku ada kamar mandi dan kulkas. Memudahakanku agar tidak perlu repot keluar kamar. Karena jujur, sampai sekarang aku masih enggan untuk melihat bunda.
            Karena hari ini hari Sabtu, aku libur. Lumayan untuk istirahat. Aku berencana untuk tidak kemana-mana, termasuk keluar kamar. Aku lebih memilih tetap di kamar untuk menghindar dari bunda. Setelah merapikan kamar, aku merasa ingin sekali membuka album foto yang tersimpan di lemari kecil di bawah rak buku jumbo milikku. Ya, aku memang suka membaca. Hampir semua jenis bacaan aku suka. Dari yang bertopik berat sampai yang ringan. Sedari kecil ayah sudah membiasakanku unutk gemar membaca. Ayah, ah. Aku jadi teringat. Aku merasa kasihan kepada ayah, yang jungkir balik menafkahi keluarga hingga menjadi sesukses sekarang. Mengapa bunda begitu?? Tidak bisakah bunda menghargai ayah?? Ternyata bunda sangat tega ! Aku tidak bisa terima. Ah, aku menangis lagi.
            Kubuka satu demi satu halaman album foto. Di situ kami sekeluarga tertawa-tawa senang, aku sedang digendong di bahu ayah. Aku berpikir, seandainya kami bisa terus begini. Ah… masa lalu adalah masa lalu. Yang tak mungkin bisa kuulang, makanya aku bertekad untuk tetap berusaha sebaik mungkin agar tidak menyesal nantinya. Aku juga tak ingin menyimpan dendam di hati, apalagi kepada bunda, wanita yang melahirkanku. Aku ingin sekali memberitahu ayah soal itu, tapi aku bingung bagaimana caranya agar tidak melukai hati mereka berdua. Aku sebal pada diriku sendiri. Mengapa tak bisa membantu menyelesaikan masalah keluargaku sendiri???
            Aku duduk mendekati jendela kamar yang menghadap lngsung ke arah taman dan kolam renang di samping rumah. Indah sekali. Namun, betapapun indahnya bagi hati yang sedang gundah terasa tak menarik. Aku menghela napas panjang. Aku mencoba mengingat-ingat semua kejadian dalam hidupku.
            Aku terlahir di keluarga yang serba kecukupan. Orang tuaku memberi nama Rahmashya Glorinayara Sutojo. Kini usiaku menginjak tujuh belas tahun dan duduk di bangku kelas XI. Kegemaranku adalah berenang dan bermain piano dan aku merupakan atlet renang andalan sekolah, jadi bisa dipastikan tubuhku tinggi semampai. Sedang untuk piano aku sudah menyabet berbagai juara untuknya. Aku tidak terlalu mementingkan fesyen. Gayaku dalam berpenampilan sederhana saja. Dengan potongan rambut panjang, aku terlihat sangat feminin. Aku anak tunggal, hampir semua keinginanku pasti dipenuhi. Walaupun begitu aku tidak merasa cukup bahagia dengan semua itu. Bukannya aku tak bersyukur, aku selalu bersyukur pada Tuhan atas semuanya. Tetapi apakah untuk mengimbangi semua itu, aku harus mendapatkan sesuatu yang disebut ‘timbal baliknya’?? Seperti keluarga tidak harmonis, ibu yang selingkuh, juga kehidupan percintaanku yang semrawut.
            Seperti yang sebelumnya pernah kukatakan, ‘masalahku bukan hanya itu’. Ada lagi cerita yang kupendam selama ini. Ya, tak lain dan tak bukan mengenai kehidupan asmaraku. Kira-kira lima bulan yang lalu, ada seorang cowok yang menyatakan perasaannya padaku. Ia adalah teman sekolahku, kami sekelas. Saat itu ia mengajakku pergi dengan alasan ingin mencari buku. Aku sebenarnya kurang yakin dengan ucapannya. Tetapi aku merasa tidak enak menolaknya.
Di toko buku, saat keadaan dirasanya sepi, ia mulai berbicara,
            “Ma, gue suka sama lo. Dan bukan cuma suka, gue sayang sama lo.”, ucap Filian, cowok itu. Aku diam terkejut, jelas sekali di wajahku.
            “Hah? A..a..a..gue…” , aku bingung.
            “Mau gak lo jadi pacar gue?” , semakin terkejut saja diriku. Aku tak tahu, harus mengiyakan atau tidak. Aku tidak terlalu mengenalnya. Perasaanku padanya pun biasa saja. Kami baru kenal selama tiga bulan. Tetapi, kurasa ia orang yang cukup baik. Jadi, apa salahnya bila kucoba. Akhirnya, aku menerimanya. Ia terlihat sangat girang.
Setelah mengambil beberapa buku yang ternyata memang ia ingin beli, kami pergi ke kasir dengan bergandengan dan terus saling melempar senyum. Ya, maklumlah pasangan baru.
            Filian adalah bintang basket sekolah. Ia berwajah cukup tampan, bertubuh tinggi tegap, dan gayanya terlihat keren. Jadi, bisa disimpulkan ia merupakan salah satu cowok yang paling diidamkan cewek-cewek sekolah kami. Tetapi, alasanku menerimanya bukan karena itu. Aku sama sekali tidak tergoda. Itu hanya nilai plus saja.
            Berangkat sekolah, aku masih tetap diantar jemput Mang Ading. Aku dan Filian tidak berangkat bersama, kami memilih untuk tidak menggembar-gemborkan hubungan kami. Sebenarnya, itu keinginannya. Ia beralasan demi aku, agar tidak menjadi sasaran gosip dan cewek-cewek yang terobsesi padanya. Aku menurut saja, karena aku memercayainya.
            Sepanjang pelajaran, Lian-panggilan akrabnya, melihat ke arahku terus. Aku sebenarnya agak risi. Apalagi ketika guru memergokinya, duh, malunya aku. Icha dan Tasya sahabatku berada di kelas yang berbeda. Jadi aku bisa menutupi hubunganku. Walaupun mereka sahabatku, Lian tetap tak mengizinkanku memberitahukan hubungan kami pada mereka .
**
            Tiga bulan sudah hubungan kami berjalan. Tetapi selama itu baru satu kali ia mengajakku pergi berkencan saat awal-awal kami berpacaran. Aku heran, setiap kali aku ajak pergi ia selalu berdalih sedang sibuk latihan basket ataupun ada kumpul penting klub basket kesayangannya itu. Menghubungiku pun hanya disaat ia butuh sesuatu atau aku yang menghubunginya lebih dulu.Padahal aku juga harus tetap latihan bersama klub renangku dan memenuhi undangan untuk menjadi pianis suatu acara. Tapi, aku masih bisa menyempatkan waktu untuknya.
Lama-lama aku mulai curiga padanya. Kepercayaan yang selama ini kuberi mulai goyah. Akhirnya, aku berinisiatif untuk mencari informasi. Selama satu minggu, aku mencoba mengikuti segala kegiatannya. Sebelumnya aku menelponnya, sedang ada kegiatan apa. Dan selama itu ia jujur. Aku mulai memercayainya lagi. Namun, di akhir minggu  sesuatu terjadi. Aku memergokinya sedang berjalan-jalan di sebuh mal dengan seorang cewek, dan sepertinya salah satu fan-nya. Ia merangkul bahu cewek itu dengan erat. Aku merasa sangat cemburu dan marah. Mereka memasuki sebuah kafe dan mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca, membuatku mudah melihat. Aku melihat Lian menggenggam tangan cewek itu sambil mengatakan sesuatu yang tak dapat kudengar. Dan tiba-tiba Lian mencium kening cewek itu. Aku terkejut dan sangat kecewa padanya. Kepercayaan yang selama ini kuberi, kini benar-benar musnah. Tega nian dia menghianatiku. Sambil menangis dan penuh amarah, aku pergi dari tempatku mengawasi. Aku benci kalian! Benci ! Dasar laki-laki buaya ! Argh !
Setiba di rumah aku langsung lari menuju kamar. Saat itu tumben sekali bunda sudah pulang. Beliau melihatku dan langsung mencegatku. Tangisku pecah lagi, tetapi aku tak ingin bercerita apa-apa. Aku hanya ingin menenangkan diri. Jadi, aku langsung menghindarinya dan pergi. Tak kuhiraukan panggilannya.
Aku datang ke sekolah agak terlambat, tujuannya agar Lian tidak berkesempatan menghampiriku. Saat istirahat, aku mengajak Icha dan Tasya ke kantin. Aku berpapasan dengan Lian. Ia tersenyum padaku, tapi aku membuang muka. Aku sangat kesal dengannya. Ia membiarkanku pergi dengan tatapan heran. Tak kupedulikan. Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Ada pesan dari Lian.
sayang, kamu marah sama aku? Aku salah apa?’
Lian
Cih, apa sih maunya? Dasar cowok buaya! Sengaja tak kubalas pesannya. Namun, ia tak tinggal diam. Pulang sekolah ia mencegatku dan menarikku ke tempat yang lebih sepi agar tak ada yang melihat.
“Kamu kenapa sih ? Seharian kamu cuekin aku. Nggak enak tau rasanya?!” , ujarnya dengan nada meninggi.
“Lo nggak sadar sama apa yang udah lo lakuin ke gue?? Lo selingkuh !” , balasku tanpa basa basi.
“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak mungkin hianatin kamu, sayang.” , ia mencoba meyakinkanku.
“Jangan boong lo ! Gue liat sendiri. Ini buktinya.” , kutunjukkan fotonya bersama cewek itu. Ya, waktu itu aku diam-diam memotret mereka. Untuk barang bukti. Ia membelalakkan matanya, terlihat sekali keterkejutan di wajahnya.
“E..e..i.. ini..inii.. Nggak, itu bukan aku. Kamu salah liat kali.” , ucapnya mecoba berkelit.
“Eh, dulu lo ngejar-ngejar gue. Lo bilang sayang sama gue. Nggak bakal hianatin gue. Tapi sekarang apa?? Lo tega banget. Sakiiit tau rasanya !” , ucapku sambil mendorong tubuhnya.
“Mulai sekarang kita putus!!”, sambungku sambil berlari meninggalkannya. Kali ini tak ada air mata. Sayang sekali bila air mataku ini hanya untuk menangisi seorang cowok tak berperasaan sepertinya.
Mulai saat itulah aku memilih untuk tidak berurusan dahulu dengan lelaki. Ada sedikit trauma di diriku. Tapi, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku masih menyimpan rasa, ternyata aku sayang padanya. Sungguh sulit bagiku menghapus semua itu. Apalagi setiap hari aku bertemu dengannya di kelas. Hampir setiap malam aku teringat pada Lian. Tak jarang aku menangis, ditambah lagi dengan masalah keluargaku.
**
            Suatu hari aku pulang sekolah. Ada kedua orang tuaku di rumah, mereka seperti sudah menungguku. Wajah mereka terlihat sangat serius. Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi pada mereka. Entahlah. Ketika aku baru saja tiba, mereka menyuruhku untuk segera berganti pakaian. Ada sesuatu yang akan mereka bicarakan padaku. Dengan perasaan heran, aku menuruti perintah mereka saja.
            Aku telah duduk berhadapan dengan kedua orang tuaku. Mereka menatapku tajam. Ayah yang memulai pembicaraan.
            “Rahma, ada sesuatu yang perlu kamu tau.” , buka ayah.
            “Apa, yah?” , ucapku tak mengerti.
            “Kami..kami tahu ini keputusan yang berat. Tapi kami yakin inilah yang terbaik.”,lanjut ayah.
            Aku belum mengerti kemana arah pembicaraan ini berjalan. “Maksudnya, yah? Aku jadi makin bingung. Sebenarnya ada apa sih dengan kalian?”, ucapku sedikit mendesak.
“Sayang, kami memutuskan untuk berpisah.” , bunda menimpali sambil menunduk. Terlihat beliau takut-takut menatapku.
            Mataku terbelalak terkejut. Bagai petir di siang bolong menyambar dadaku tiba-tiba. Sesaaak sekali rasanya. “A..apa maksudnya? K..kenapa ayah,bunda mau cerai?? Kalian nggak sayang sama aku? Apa kalian nggak tau kalo selama ini kesibukan kalian aja udah beban buat aku?? Ketidakpedulian kalian juga udah menyakiti aku. Kalian nggak pernah sadar itu kan??” , responku spontan. Aku berlari, menuju kamarku, menguncinya, dan menangis sejadinya. Aku kacau. Aku seperti hilang pijakan. Aku sadari ucapanku tadi kasar dan tak pantas, tapi aku terlalu terpukul untuk mencari kata yang lebih sopan agar mereka mengerti.
Rasanya ingin sekali aku pergi meninggalkan dunia ini, aku terlalu rapuh menerima semuanya. Tapi keluhku pada Tuhan rasanya takkan pantas, nikmat hidup yang diberiNya terlalu luar biasa. Aku limpung. Ada masalah yang rasanya tak kuat kutagguh. Saat pijakanku goyah begini, hanya kepadaNya aku berlari. “Tuhan, maafkan aku…Aku jauh dariMu selama ini. Kau menarikku mendekat dengan masalah ini. Terima kasih, Tuhan. Kau masih menyayangiku….Aku yakin.”
Meskipun tak tahu hari-hari esok kan seperti apa, aku mencoba menenangkan pikiran kacauku. Semoga aku bisa, semoga…..
**