Bangun shubuh teramat berat bagi sebagian orang. Adakah kiat-kiat untuk bangun Shubuh ?
Melansir dari timeline faceboo, ada beberapa kiat yang bisa membantu kaum muslimin untuk mudah bangun
Shubuh:
1- Takwa dan perhatian dengan waktu shalat
Orang yang bertakwa tentu akan dimudahkan urusannya termasuk dalam
melaksanakan shalat Shubuh. Begitu pula jika seseorang perhatian dengan waktu
Shalat, maka itu akan jadi kebiasaan dia. Layaknya anak kecil yang dijanjikan
untuk pergi tamasya, tentu saja ia akan bangun sebelum waktu yang ditetapkan
meskipun tidak ada yang akan membangunkannya.
2- Tidur di awal malam dan tinggalkan begadang
Ada yang mengetahui dengan detail batas waktu kapan ia harus tidur agar
dapat bangun Shubuh. Jika melampaui batas waktu tersebut, ia pasti akan
ketinggalan shalat, maka dalam kondisi ini ia tidak boleh begadang hingga
melewati batas waktu yang dapat menyebabkanya jatuh ke dalam kelalaian dalam
menunaikan kewajiban ini.
Perlu diketahui bahwa begadang tanpa ada kepentingan dibenci oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ
وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan
ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)
Ibnu
Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang
setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan
khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob
sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau
mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir
malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, 3: 278).
3- Menggunakan alat-alat pengingat seperti pada jam
tangan atau pada handphone.
4- Membiasakan tidur dan bangun di waktu yang sama setiap
hari.
Agar
terbiasa bangun Shubuh, maka harus dipaksakan di awal dan terus dibiasakan
setelah itu. Karena jika sudah ada ritme tidur dan bangun, pasti akan mudah
bangun Shubuh meski tidak menggunakan weaker atau alarm.
5- Tidur di alas yang memudahkan proses bangun.
Terkadang
seseorang terpaksa harus bergadang karena suatu tuntutan, hingga ia merasa
tidak akan dapat bangun pada waktu shalat, maka solusinya adalah dengan merubah
alas tidur, misalnya tidur di atas lantai tanpa alas, atau tanpa bantal di luar
kamar tidurnya, dan begitu seterusnya selalu melakukan perubahan-perubahan yang
dapat mengusir tidur yang nyenyak dan dapat meringankan proses bangun.
6- Menjaga adab Islami sebelum tidur.
a- Tidurlah dalam keadaan berwudhu.
Hal
ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ
وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Jika
kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu
berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)
b- Tidur berbaring pada sisi kanan.
Hal
ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh
Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar
seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan
lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi
badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1: 321-322).
c- Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al
Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan
surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan
tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan
sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.
Dari
‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ
كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ
بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ
بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ
ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
“Nabi
shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam,
beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut
ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil
falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas).
Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang
mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau
melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al
Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
lebih bermanfaat bagi hati daripada mendengarkan alunan musik klasik sebelum
tidur.
d- Membaca ayat kursi sebelum tidur.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله
عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ
الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى
الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ
فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ
يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم
– « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan
kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali,
lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu
hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi
berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al
Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak
akan dapat mendekatimu sampai pagi”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu
setan”. (HR. Bukhari no. 3275)
e- Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu
wa ahyaa”.
Dari
Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم
– إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » .
وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا
بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Apabila
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika
allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’
Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana
ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah
menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).”
(HR. Bukhari no. 6324)
Source : Facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar