TUGAS 3
Pendahuluan
Di masa sekarang, ekonomi terasa semakin sulit. Mendapatkan pekerjaan bukanlah hal mudah. Pesaing bukan hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dari mancanegara, khususnya negara-negara ASEAN. Ya, MEA, Masyarakat Ekonomi Asean sudah dimulai beberapa bulan silam. Meski tak begitu hebat dampaknya, namun tetap saja terasa. Berbagai bidang sudah mulai membuka peluan bagi WNA untuk menjadi tenaga kerjanya. Ekonomi Indonesia pun semakin dirasa berat. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya pihak yang menghalalkan berbagai cara untuk
menghasilkan uang, tak peduli apakah itu merupakan jalan yang baik atau tidak, adakah
pihak yang dirugikan atau tidak. Baik itu individu maupun lembaga. Contohnya saja iklan-iklan promosi produk yang ternyata memiliki syarat untuk mendapatkan barang promosinya. Atau memberi keterangan produk mereka yang sulit terbaca (menggunaan tulisan yang amat kecil). Misalnya produk detergen Att*ck. Terdapat tulisan "Formula membersihkan dalam 1 kali kucek", jika diteliti lebih jauh terdapat tanda bintang kecil di samping tulisan tersebut. Tanda bintang tersebut menjelaskan bahwa formula yang dimaksud adalah formula baru dibanding formula sebelumnya. Mereka bilang yang dilakukan bukanlah sebuah penipuan, melainkan strategi pemasaran.
Teori
Seperti dikutip dari tulisan Fakhrul Rozi yang menjelaskan tentang etika bisnis Nabi Muhammad yang dahulu merupakan seorang pedagang.
1. Jujur menjelaskan produk
2. Tidak ada pemaksaan, Win-win
3. Tidak menipu ukuran, takaran, dan timbangan
4. Tidak menjelekkan bisnis orang lain
5. Bebas unsur riba
6. Tidak menimbun barang
7. Tidak memonopoli
8. Membayar upah pekerja sebelum keringat mereka kering
9. Teguh menjaga amanah
10. Toleran dalam berbisnis
11. Menepati janji
12. Murah hati
13. Adil dalam berbisnis
14. Menjual produk yang terjamin kehalalannya
Analisis
Di kasus ini Att*ck melanggar poin 1 dari teori di atas. Iklan - iklan di masa ini sepertinya sudah mencoba mengabaikan nilai kejujuran yang tinggi. Meskipun terlihat sepele, tapi alangkah baiknya apabila produsen menjelaskan secara sejujurnya keadaan produknya. Tidak ada sesuatu pun yang sempurna selain Tuhan. Sekecil dan sebesar apapun kekurangan produk, harus dijelaskan kepada konsumen. Bukannya melebih-lebihkan produk dengan menyembunyikan sebuah fakta dibaliknya.
Perilaku berdagang Rasulullah seharusnya ditiru. Beliau dengan rendah hati akan menjelaskan secara jujur kekurangan yang ada pada barang dagangannya. Sungguh akhlak yang mulia. Beliau tidak khawatir akan kehilangan pelanggan atas kejujurannya itu. Justru pelanggan semakin senang karena pedagang dengan jujur menjelaskan keadaan produknya, sehingga mereka tahu benar apa yang dibelinya.
Dari kacamata penulis pribadi, produsen saat ini dengan semakin ketatnya persaingan, berusaha sebisa mungkin untuk memperoleh untung sebanyak-banyaknya. Salah satu caranya adalah dengan slogan maupun iklan yang menarik perhatian konsumen sehingga tertarik dan memutuskan untuk membeli produk tersebut. Sayangnya produsen tidak seratus persen terbuka tentang kondisi produk seutuhnya karena takut kehilangan pelanggan. Maka kita sebagai konsumen yang harus pintar-pintar mengenali produk yang akan kita beli. Salah-salah kita hanya akan terjebak dalam lubang promosi yang semakin liar.
Perilaku berdagang Rasulullah seharusnya ditiru. Beliau dengan rendah hati akan menjelaskan secara jujur kekurangan yang ada pada barang dagangannya. Sungguh akhlak yang mulia. Beliau tidak khawatir akan kehilangan pelanggan atas kejujurannya itu. Justru pelanggan semakin senang karena pedagang dengan jujur menjelaskan keadaan produknya, sehingga mereka tahu benar apa yang dibelinya.
Dari kacamata penulis pribadi, produsen saat ini dengan semakin ketatnya persaingan, berusaha sebisa mungkin untuk memperoleh untung sebanyak-banyaknya. Salah satu caranya adalah dengan slogan maupun iklan yang menarik perhatian konsumen sehingga tertarik dan memutuskan untuk membeli produk tersebut. Sayangnya produsen tidak seratus persen terbuka tentang kondisi produk seutuhnya karena takut kehilangan pelanggan. Maka kita sebagai konsumen yang harus pintar-pintar mengenali produk yang akan kita beli. Salah-salah kita hanya akan terjebak dalam lubang promosi yang semakin liar.