CINTA DALAM ISLAM
Manusia adalah makhluk sosial. Yang berarti manusia
saling membutuhkan satu sama lain dengan saling ketergantungan dan saling
menguntungkan terhadap sesama. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan dengan
kemampuan akal yang istimewa lebih dari makhluk lainnya. Dengan akal tersebut,
manusia dapat berpikir, apa yang harus mereka lakukan, apa yang mereka
perlukan, dan mengapa mereka harus melakukan sesuatu hal. Semua itu dikarenakan
manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan sebuah akal serta perasaan untuk
saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Perasaan tersebut adalah sebuah
cinta kasih terhadap sesama makhluk hidup.
Cinta dan manusia sangatlah erat kaitannya. Setiap
manusia pastilah memiliki cinta, entah itu cinta kepada sang pencipta, cinta
kepada sesama manusia, cinta kepada sesama makhluk ciptaan tuhan, maupun rasa
cinta kepada alam. Cinta merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan
kepada semua makhluk ciptaannya. Manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat
hidup sendiri, didalam kehidupannya manusia pastilah memerlukan pendamping,
namun karakter setiap manusia itu berbeda, maka dari itu untuk menyatukannya perlulah
didasari oleh rasa cinta agar manusia dapat hidup berdampingan. Dengan adanya
rasa cinta manusia dapat saling menjaga dan melindungi.
A.
Pengertian Cinta
Menurut
kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerwa Darminta, cinta adalah
rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat
kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan
sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan, dengan demikian arti cinta
dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena
itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang
yang disertai dengan menaruh belas kasih. Walaupun cinta kasih memegang peranan
yang penting dalam kehidupan manusia, saebab cinta merupakan landasan dalam
kehidupan perkawinan, pembentukan kelurga dan pemeliharaan anak, hubungan yang
erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah
pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhanya sehingga manusia menyembah
Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintahNya, dan berpegang teguh pada syariatNya.
Pengertian
tentang cinta dikemukakan juga oleh Dr. Sarlito W. Sarwono, dikatakan
bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu: keterikatan. Keintiman, dan
kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan
untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan
orang lain kecuali dengan dia, kalau janji dengan dia harus ditepati. Unsur
yang kedua adalah keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan
tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada
jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara
digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan, sayang dan sebagainya.Makan
minum dari satu piring, cangkir tanpa rasa risi, pinjam meminjam baju, saling
memakai uang tanpa rasa berhutang, tidak saling menyimpan rahasia
dan lain-lainya. Unsur yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin
membelai dan dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya
ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang,dan seterusnya. Cinta tingkat
tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah, dan berjihad dijalan Allah.
Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak,
saudara, suami / istri dan kerabat. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang
lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta, dan tempat tinggal.
B.
Cinta Dalam Pandangan Islam
Kata
cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya
memiliki erti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.Sebagaimana dalam
surah Ali Imram (14) :
“Dijadikan
indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” Dalam ayat ini
Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik
manusia beriman maupun manusia durjana.
Dari
penbacaan saya terdapat satu hadis mengenai cinta,tetapi saya lupa dari siapa
perawinya,disini saya kongsikan buat tatapan semua :
“man
ahabba syai’an fa huwa `abduhu”, Barang siapa yang mencitai sesuatu pasti dia
akan diperbudak olehnya. Berikut ini akan saya bahas erti cinta menurut
Alquran.
Menurut
hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura
dzikruhu),kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba
syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga,
Ciri
dari cinta sejati ada tiga :
(1)
lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain.
(2)
lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain.
(3)
lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemahuan orang lain atau
diri sendiri.
C.
Pengertian Cinta Dalam Al-Qur’an
1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta
mengebu-gebu, membara dan “menyayangi”. Orang yang memiliki cinta jenis
Mawaddah, mahunya selalu berduaan, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan
dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak biasa berfikiran
lain.
2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang
penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang
memiliki cinta jenis Rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya
disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meskipun untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan
kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta
Rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua
terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam Al- Qur’an , kerabat
disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan
kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut
rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologi kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya
diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber
silaturrahim, atau silaturrahmi ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami
isteri yang diikat oleh cinta Mawaddah dan Rahmah sekaligus biasanya saling
setia lahir batin,dunia akhirat.
3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk
sementara sangat membara, sehingga tidak menpedulikan hal-hal lain, cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis Mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks
orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu
kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta Syaghaf, adalah cinta yang sangat
mendalam, alami, kerinduan dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis
syaghaf (qad syaghafaha hubba) biasanya seperti orang gila, lupa diri dan
hampir-hampir tidak menyedari apa yang dilakukan. Al- Qur’an menggunakan terma
Syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir
kepada Nabi Yusuf.
5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang
dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak
sehingga tidak tegas membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah.
Al- Qur’an menyebut terma ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta Ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini khusus hukuman
bagi pezina (Q/24:2).
“Perempuan
yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang
dari keduanya seratus kali sebat; dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan
belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum ugama Allah, jika benar
kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan hendaklah disaksikan hukuman
siksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang
beriman”.
6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta
yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al- Qur’an menyebut
terma ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan
dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh,
wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin
(Q/12:33).
Yusuf
(merayu kehadrat Allah Taala dengan) berkata: “Wahai Tuhanku! Aku lebih suka
kepada penjara dari apa yang perempuan-perempuan itu ajak aku kepadanya. Dan
jika Engkau tidak menjauhkan daripadaku tipu daya mereka, mungkin aku akan
cenderung kepada mereka, dan aku menjadi dari orang-orang yang tidak
mengamalkan ilmunya”.
7. Cinta Syauq (rindu). Terma ini bukan
dari Al -Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan Al_Qur’an. Dalam surah Al
`Ankabut ayat 5 dikatakan : “bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti
waktunya akan tiba”. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa
ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah
Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al
Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu)
adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan
kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah
wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.
8. Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang
disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meskipun sulit,
seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri,
meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut A-l Qur’an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la
yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).
Allah
tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat
pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang
diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah
Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan
kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana
yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami.
Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak
terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami,
dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah
kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”.
Jika
kita melihat kepada sejumlah kitab tafsir, maka akan ditemukan begitu banyak
pendapat para ulama tentangSakinah, Mawaddah, dan Rahmah (QS Ar-Rum: 21).
“Dan di
antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, bahawa Ia
menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu
sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikanNya
di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan.
Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang
menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.”
Itulah
tiga kondisi yang Allah SWT tanamkan dalam hati setiap manusia normal sebagai
salah satu tanda dari kekuasaan-Nya. Pada umumnya, para ulama menafsirkan
rahmah sebagai bentuk kasih sayang yang wujudnya lebih dalam dari sekedar
cinta. Ia terwujud dalam sikap suami yang melindungi, mengayomi, dan tidak
ingin isterinya mendapat celaka dan gangguan.
D.
Penutup
Dengan
demikian, perasaan pertama yang muncul pada diri seorang suami pada isterinya
adalah sakinah (ketenangan) saat berada di sisinya. Kemudian ia melahirkan perasaan
cinta, dan pada tahap selanjutnya sikap kasih sayang. Sikap kasih sayang inilah
yang membuat suami isteri tetap akur dan harmonis sampai pada usia senja meski
dorongan syahwat dan cinta sudah melemah.
Adapun
para ulama berpendapat, bahwa cara untuk mendapatkan sakinah, mawaddah,
dan rahmat: Pertama,takwa kepada Allah baik dari sebelum menikah,
dalam proses menikah, terlebih lagi sesudah menikah. Kedua,memahami
rambu-rambu serta hak dan kewajiban suami isteri. Dan ketiga, berdoa
selalu kepada Allah agar diberi sakinah. mawaddah, dan rahmah tadi Ada juga
pendapat yang mengungkapkan tentang makna Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah:
Pertama, Sakinah (ketentraman). Ia bermakna
kecenderungan dan kecondongan hati. Artinya seorang lelaki (suami) akan senang
dan merasa tenteram jika berada di samping wanita (isterinya).
Kedua, Mawaddah (cinta). Menurut Mujahid
maknanya adalah jima (persetubuhan antara suami isteri). Namun, secara umum
maknanya adalah kecintaan suami kepada isterinya.
Ketiga, Rahmah (kasih sayang). Ada yang
menafsirkannya dengan kelahiran anak, sebagaimana bunyi firman Allah pada surah
Maryam ayat 2 dan 7, yang menyebutkan anak sebagai rahmat.
Wallahu
a’lam bish-shawab.
Daftar Pustaka :
1.
Kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin dan taksir
Al-Quran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar