Bersyukur Atas Keindahan Alam
Manusia
dikaruniai sepasang mata yang baik oleh Allah. Mata membantu manusia untuk
melihat. Setiap hal yang Allah ciptakan, bertujuan untuk beriman dan bertaqwa
kepadaNya. Salah satu bentuk ketaqwaan manusia atas karunia penglihatan adalah
bersyukur atas keindahan alam yang Allah ciptakan di dunia ini.
A.
Pengertian
Keindahan
adalah susunan yang teratur dari bagian yang erat antara satu dengan lainnya
(Baumgarten, pujangga Jerman), keindahan adalah sesuatu yang memiliki proporsi
yang harmonis (Shaftesbury, pujangga Jerman), Keindahan adalah keserasian obyek
dengan tujuannya (Emmanuel Kant).
Keindahan
atau keserasian diwujudkan dalam bentuk ukuran, perpaduan, pertentangan atau
keseimbangan. Ukuran segi panjang yang indah adalah 3 berbanding 5, perpaduan
kulit yang gelap dengan baju yang berwarna lembut adalah serasi, pertentangan
tinggi rendah atau keras lembutnya suara musik adalah indah dan keseimbangan
yang tercipta dari seorang yang bertubuh tinggi mengenakan baju bergaris
horisontal atau orang yang pendek mengenakan baju bergaris vertikal adalah
serasi.
Keindahan
berasal dari kata indah yang artinya bagus, cantik, atau elok. Indah sama
dengan “beauty” (bahasa Inggris), “Beau” (bahasa Perancis) atau “Bello” (bahasa
Italia). Keindahan dapat diartikan secara artistik, terbatas, dan luas.
Keindahan
dalam arti artistik bersifat subyektif, artinya keindahan tersebut merupakan
hasil hubungan antara pikiran dengan benda yang diamati. Keindahan artistik
ditentukan oleh unsur dinamis berupa kesan yang berubah akibat dunia yang
selalu berubah-ubah.Unsur dinamis menyebabkan keindahan artistik juga dinamis,
artinya kendahan dinilai sesuai dengan tempat dan jamannya. Dengan demikian,
keindahan dalam arti artistik merupakan hasil hubungan antara pikiran dengan
benda yang diamati yang selalu berubah kesannya sesuai tempat dan jamannya.
Salah
satu bentuk perilaku syukur atas karunia keindahan alam yang nikmati matakita
adalah bertafakur alam.
B.
Tafakur Alam
Tafakur
artinya kegiatan berfikir, memikirkan atau merenungi secara mendalam. Tafakur
berarti bagaimana kita sebagai hamba Allah selalu memikirkan, merenungi akan
kekuasaan Allah yang meliputi langit bumi beserta seluruh ciptaan-Nya ini,
tidak hanya melalui akal semata tetapi juga disertai dengan zikir & fikir
dihati.
Bertafakur
bukanlah berkhayal dan berangan-angan kosong, bukan memikirkan keduniaan yang
tak pernah habis. Tapi mengarahkan kita untuk memikirkan semua fenomena alam
dan kaitannya dengan keimanan. Itulah tafakur yang akan mempunyai pengaruh pada
kebersihan hati. Tafakur adalah berfikir jauh menerawang dan menerobos alam
dunia kedalam alam akhirat, dari alam ciptaan-Nya menuju kepada sang Khalik.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi”. AliImran:190-191
C.
Alam Semesta
“Sekadar
aku keluar dari rumah dan apa yang tertangkap oleh mataku, pasti aku melihat
bahwa ada nikmat Allah atasku dari apa yang ku lihat. Dan dari sana aku
memetik pelajaran
untuk ku (Abu Sulaiman Ad Darani seorang shalih dari generasi Tabiin)
Bila
kita telah selesai mentafakuri keagungan Allah atas apa yang ada di diri kita,
maka kita bisa mulai mentafakuri ciptaan Allah lainnya, yang bermilyar bahkan
trilyunan jumlahnya atau bahkan tak terbatas jumlahnya, meliputi tumbuhan,
daratan, laut, udara bahkan semua ciptaan yang ada di angkasa raya, meliputi bintang,
bulan, matahari dan lain sebagainya. Semesta kreasi Allah SWT yang sempurna
dengan berbagai hukumnya yang banyak tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia,
pasti tidaklah muncul dengan sendirinya.
D.
Waktu
Tafakur
Waktu untuk melakukan tafakur bisa kapan saja dan
dimana saja, firman Allah dlm surah Ali Imran:191 “Yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.
Tetapi
waktu tafakur yang paling afdal adalah saat tengah malam. Berzikir di suasana
lengang, hening, sunyi senyap, dan disaat saat kesendirian kita, bisa membawa
kita ke suasana syahdu hingga bisa menciptakan suasana romantisme antara
seorang hamba dan sang Khaliknya.
E.
Tujuan
Tafakur
Tafakur
dilakukan oleh seorang hamba bertujuan dalam rangka mengenal ma’rifatullah
kepada Zat Allah, sifat-sifatnya serta nama-namaNya. Diriwayatkan Ibunu Abbas
bahwa suatu hari Rasul SAW menemui suatu kaum yang sedang bertafakur. Beliau
bertanya, “Mengapa kalian tidak berkata kata? “Mereka menjawab, “Kami sedang
memikirkan tentang ciptaan Allah SWT.” Beliaupun bersabda, “Kalau begitu
lakukanlah. Pikirkanlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan memikirkan
Zat-Nya, karena kamu tidak akan sanggup memikirkannya”.
Jadi
bila hendak mengenal Allah bukan Dzatnya yang kita tafakuri atau pikirkan, tapi
hasil karya atau ciptaannya yang meliputi bumi langit dan seluruh isinya. Dari
proses tafakur ini dengan sendirinya kita dapat menemukan berbagai keajaiban
dan rahasia yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, kemuliaan dan keagungan
Allah, yang Insya Allah dengan sendirinya tidak hanya akan menuntun jalan kita
lebih mengenal Allah, tetapi juga pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa cinta
seorang hamba kepada sang Khalik-Nya.
Jika
kita merutinkan tafakur, maka akan muncul kesempuranaan dalam keberagamaan
kita. Siapa saja yang melakukannya dengan baik, maka ia akan beroleh kebaikan
yang besar. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, tidak ada ibadah yang
sepenting tafakur. Sebab tafakur itu pelita kalbu. Bila ia pergi, tiada cahaya
yang menerangi. Tafakur akan menjadikan hatimu hidup, sinarnya akan menerangi
seluruh jiwa dengan keimanan dan keyakinan
Daftar Pustaka :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar