Jumat, 29 November 2013

Manusia Dan Keindahan Alam

Bersyukur Atas Keindahan Alam

Manusia dikaruniai sepasang mata yang baik oleh Allah. Mata membantu manusia untuk melihat. Setiap hal yang Allah ciptakan, bertujuan untuk beriman dan bertaqwa kepadaNya. Salah satu bentuk ketaqwaan manusia atas karunia penglihatan adalah bersyukur atas keindahan alam yang Allah ciptakan di dunia ini.

A.   Pengertian
Keindahan adalah susunan yang teratur dari bagian yang erat antara satu dengan lainnya (Baumgarten, pujangga Jerman), keindahan adalah sesuatu yang memiliki proporsi yang harmonis (Shaftesbury, pujangga Jerman), Keindahan adalah keserasian obyek dengan tujuannya (Emmanuel Kant).
Keindahan atau keserasian diwujudkan dalam bentuk ukuran, perpaduan, pertentangan atau keseimbangan. Ukuran segi panjang yang indah adalah 3 berbanding 5, perpaduan kulit yang gelap dengan baju yang berwarna lembut adalah serasi, pertentangan tinggi rendah atau keras lembutnya suara musik adalah indah dan keseimbangan yang tercipta dari seorang yang bertubuh tinggi mengenakan baju bergaris horisontal atau orang yang pendek mengenakan baju bergaris vertikal adalah serasi.
Keindahan berasal dari kata indah yang artinya bagus, cantik, atau elok. Indah sama dengan “beauty” (bahasa Inggris), “Beau” (bahasa Perancis) atau “Bello” (bahasa Italia). Keindahan dapat diartikan secara artistik, terbatas, dan luas.
Keindahan dalam arti artistik bersifat subyektif, artinya keindahan tersebut merupakan hasil hubungan antara pikiran dengan benda yang diamati. Keindahan artistik ditentukan oleh unsur dinamis berupa kesan yang berubah akibat dunia yang selalu berubah-ubah.Unsur dinamis menyebabkan keindahan artistik juga dinamis, artinya kendahan dinilai sesuai dengan tempat dan jamannya. Dengan demikian, keindahan dalam arti artistik merupakan hasil hubungan antara pikiran dengan benda yang diamati yang selalu berubah kesannya sesuai tempat dan jamannya.
Salah satu bentuk perilaku syukur atas karunia keindahan alam yang nikmati matakita adalah bertafakur alam.

B.   Tafakur Alam
Tafakur artinya kegiatan berfikir, memikirkan atau merenungi secara mendalam. Tafakur berarti bagaimana kita sebagai hamba Allah selalu memikirkan, merenungi akan kekuasaan Allah yang meliputi langit bumi beserta seluruh ciptaan-Nya ini, tidak hanya melalui akal semata tetapi juga disertai dengan zikir & fikir dihati.
Bertafakur bukanlah berkhayal dan berangan-angan kosong, bukan memikirkan keduniaan yang tak pernah habis. Tapi mengarahkan kita untuk memikirkan semua fenomena alam dan kaitannya dengan keimanan. Itulah tafakur yang akan mempunyai pengaruh pada kebersihan hati. Tafakur adalah berfikir jauh menerawang dan menerobos alam dunia kedalam alam akhirat, dari alam ciptaan-Nya menuju kepada sang Khalik.
 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.  AliImran:190-191

C.   Alam Semesta
“Sekadar aku keluar dari rumah dan apa yang tertangkap oleh mataku, pasti aku melihat bahwa ada nikmat Allah atasku dari apa yang ku lihat. Dan dari sana aku memetik pelajaran
untuk ku (Abu Sulaiman Ad Darani seorang shalih dari generasi Tabiin)

Bila kita telah selesai mentafakuri keagungan Allah atas apa yang ada di diri kita, maka kita bisa mulai mentafakuri ciptaan Allah lainnya, yang bermilyar bahkan trilyunan jumlahnya atau bahkan tak terbatas jumlahnya, meliputi tumbuhan, daratan, laut, udara bahkan semua ciptaan yang ada di angkasa raya, meliputi bintang, bulan, matahari dan lain sebagainya. Semesta kreasi Allah SWT yang sempurna dengan berbagai hukumnya yang banyak tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia, pasti tidaklah muncul dengan sendirinya.

D.   Waktu Tafakur
Waktu untuk melakukan tafakur bisa kapan saja dan dimana saja, firman Allah dlm surah Ali Imran:191 “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.
Tetapi waktu tafakur yang paling afdal adalah saat tengah malam. Berzikir di suasana lengang, hening, sunyi senyap, dan disaat saat kesendirian kita, bisa membawa kita ke suasana syahdu hingga bisa menciptakan suasana romantisme antara seorang hamba dan sang Khaliknya.

E.   Tujuan Tafakur
Tafakur dilakukan oleh seorang hamba bertujuan dalam rangka mengenal ma’rifatullah kepada Zat Allah, sifat-sifatnya serta nama-namaNya. Diriwayatkan Ibunu Abbas bahwa suatu hari Rasul SAW menemui suatu kaum yang sedang bertafakur. Beliau bertanya, “Mengapa kalian tidak berkata kata? “Mereka menjawab, “Kami sedang memikirkan tentang ciptaan Allah SWT.” Beliaupun bersabda, “Kalau begitu lakukanlah. Pikirkanlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan memikirkan Zat-Nya, karena kamu tidak akan sanggup memikirkannya”.
Jadi bila hendak mengenal Allah bukan Dzatnya yang kita tafakuri atau pikirkan, tapi hasil karya atau ciptaannya yang meliputi bumi langit dan seluruh isinya. Dari proses tafakur ini dengan sendirinya kita dapat menemukan berbagai keajaiban dan rahasia yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, kemuliaan dan keagungan Allah, yang Insya Allah dengan sendirinya tidak hanya akan menuntun jalan kita lebih mengenal Allah, tetapi juga pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa cinta seorang hamba kepada sang Khalik-Nya.
Jika kita merutinkan tafakur, maka akan muncul kesempuranaan dalam keberagamaan kita. Siapa saja yang melakukannya dengan baik, maka ia akan beroleh kebaikan yang besar. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, tidak ada ibadah yang sepenting tafakur. Sebab tafakur itu pelita kalbu. Bila ia pergi, tiada cahaya yang menerangi. Tafakur akan menjadikan hatimu hidup, sinarnya akan menerangi seluruh jiwa dengan keimanan dan keyakinan


Daftar Pustaka :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar