Minggu, 20 Oktober 2013
Manusia dan Penderitaan
Penderitaan dalam Hidup Manusia
Manusia adalah makhluk cipataan Tuhan yang paling mulia. Kemuliaan itu dikarenakan manusia dianugerahi akal dan pikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk kehidupannya. Walaupun dalam kenyataannya banyak manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya sehingga ia salah arah yang akhirnya merusak dirinya sendiri.
Penderitaan
termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia
bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan
individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu
perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan
penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi
untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai
kenikmatan dan kebahagiaan.
Akibat
dari penderitaan itu ada yang mengambil hikmah dari semua penderitaan yang
telah dia alami dan ada juga yang tidak seperti itu, mudah-mudahan semua
manusia bisa mengambil hikmah dari penderitaan yang mereka alami.
A. ARTI
KATA PENDERITAAN
Penderitaan berasal dari
kata derita, kata derita berasal dari bahasa Sanskerta “dhara” artinya menahan,
menanggung. Derita berarti menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak
menyenangkan. Penderitaan itu ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan,
kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain.
Penderitaan termasuk
realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat,
ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga
menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang
dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi
orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi
seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
B. PENGERTIAN
PENDERITAAN
Penderitaan berasal dari
kata Derita yang artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak
menyenangkan.
Penderitaan termasuk
realitas Dunia dan Manusia. Penderitaan ada yang ringan dan ada yang berat.
Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan
penderitaan bagi orang lain. Bisa juga penderitaan menjadi energi untuk bangkit
dan menjadikan seseorang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Penderitaan juga
merupakan teguran Tuhan kepada Umat-Nya agar manusia sadar untuk tidak
berpaling dari-Nya. Sebelum penderitaan itu terjadi pada umumnya manusia telah
diberikan tanda, tanda itu dapat berupa mimpi dan lain sebagainya.
Tuhan telah menciptakan
manusia dengan segala kelebihannya dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Penderitaan itu dapat berkurang tergantung bagaimana manusia menyikapi
penderitaan itu. Bagi manusia yang tebal imannya musibah yang sedang dialaminya
akan segera menyadarkan dirinya untuk bertaubat kepada Nya dan pasrah terhadap
takdir yang telah ditentukan Tuhan terhadap diri nya, dan yakin bahwa kekuasaan
Tuhan jauh lebih besar dari dirinya. Kepasrahan itu yang membuat manusia
merasakan kedamaian dalam hatinya dan lama kelamaan akan berkurang penderitaan
yang dialaminya. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas
kemampuan umatnya.
Di dalam Al-Qur’an
maupun kitab suci agama lainnya banyak surat dan ayat yang menjelaskan tentang
penderitaan manusia dan peringatan kepada manusia akan adanya penderitaan,
namun pada umumnya manusia kurang memperhatikan peringatan tersebut.
Dalam surat Al-Insyiqoq
ayat 6 dinyatakan bahwa Manusia ialah makhluk yang hidup nya penuh perjuangan.
Ayat tersebut dapat diartikan bahwa manusia harus bekerja keras untuk
kelangsungan hidup nya yaitu dengan cara menghadapi alam, menghadapi manusia
disekelilingnya dan tidak lupa untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apabila manusia melalaikan salah satu nya akibatnya manusia akan menderita.
Penderitaan itu ada yang
fisik dan ada yang psikis. Penderitaan fisik dapat dihadapi dengan cara medis untuk
mengurangi atau menyembuhkannya. Sedangkan penderitaan psikis penyembuhannya
terletak pada kemampuan penderita menyelesaikan persoalan-persoalan psikis.
C. PENDERITAAN
DAN SEBAB-SEBABNYA
Sebab-sebab timbulnya penderitaan antara lain :
1. Penderitaan
yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia
dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam
sekitar.
Karena perbuatan buruk antara sesama manusia yang mengakibatkan
manusia lain menderita antara lain :
- TKW
Indonesia yang dianiaya di Malaysia disiksa, disetrika, diperkosa bahkan ada
yang sampai meninggal dunia. Perbuatan buruk majikan yang menyebabkan
penderitaan bagi pembantunya sampai kehilangan nyawanya.
- Perbuatan
buruk orang tua kepada anak kandung nya yang menganiaya sampai mengakibatkan
kematian. Orang tua yang seharusnya melindungi dan menjadi contoh bagi anak nya
malah memberikan penderitaan kepada anak kandung nya sendiri.
- Tawuran
pelajar antara SMA 6 dan SMA 70 yang mengakibatkan dua orang luka dan satu
orang meninggal dunia. Tawuran pelajar yang menyisakan penderitaan bagi
keluarga maupun dirinya sendiri.
Perbuatan buruk manusia
terhadap lingkungan juga menyebabkan penderitaan bagi manusia. Tetapi manusia
tidak menyadari hal tersebut. Manusia baru menyadari setelah bencana itu
terjadi seperti :
- Musibah
banjir dan tanah longsor di Kota Ambon. Bencana ini memakan korban sebanyak 5
orang meninggal akibat banjir dan 3 orang akibat tanah longsor, belum terhitung
lagi jumlah orang yang hilang dan kerusakan harta benda yang diderita akibat
bencana alam ini. Bencana alam ini bermula karena penebangan hutan secara liar
sehingga tanah tidak mampu menampung debit air hujan dan berakibat banjir
disertai tanah longsor. Pemerintah dan segenap jajaran kesehatan dan tim SAR
telah mengevakuasi korban, memberikan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dan
klinik. Mereka bekerjasama untuk membantu korban keluar dari penderitaan ini.
- Bencana
Lumpur Lapindo yang disebabkan karena kelalaian manusia dalam pengeboran sumur
di Sidoarjo Jawa Timur yang mengakibatkan menyemburnya lumpur panas dari bawah
tanah. Semburan lumpur panas tersebut menyebabkan tergenangnya kawasan
permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta
memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Inilah penderitaan manusia akibat kelalaian
pekerja dan pimpinan perusahaan. Mereka harus bertanggung jawab untuk
memulihkan penderitaan warga sekitar.
2. Penderitaan
yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan
Penderitaan juga dapat
terjadi karena penyakit, siksaan / azab Tuhan. Kesabaran, tawakal dan optimisme
merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut. Banyak contoh
kasus penderitaan semacam ini antara lain :
- Seorang
anak laki-laki yang lahir tanpa tangan dan kaki. Ia berjuang mental dan
emosional serta fisiknya. Awalnya dia seakan tidak mempunyai harapan untuk
hidup seakan hidup ini tidak ada artinya lagi. Tetapi dia menyadari bahwa ada
tangan Tuhan yang akan selalu membantunya. Tuhan pasti akan menunjukan
kebesaran dan kuasanya bagi orang-orang yang tidak pernah mengenal putus asa. Dengan
kekuatannya itu dia mampu menyelesaikan study nya di Griffith University dan
sekarang dia menjadi seorang motivator Internasional. Dia adalah Nicholas James
Vujicic atau yang biasa sering dipanggil Nick Vujicic.
- Nabi
ayub mengalami cobaan Tuhan yaitu dia menderita penyakit kulit selama
bertahun-tahun. Nabi ayub kehilangan masa kejayaannya, keluarganya, teman dan
kaum kerabatnya. Dengan penuh kesabaran dan keihklasan Nabi ayub menjalankan
cobaan dari Tuhan. Berkat kesabaran dan keihlasannya beliau sembuh total dari
penyakitnya dan Allah memberikan kemulian yang berlipat-lipat sehingga Nabi
Ayub tidak lagi miskin.
- Tenggelamnya
fir’aun dilaut merah adalah azab yang dijatuhkan Tuhan kepada orang yang angkuh
dan sombong. Ketika fir’aun mengngejar Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya
menyebrangi laut merah. Dengan tongkat Nabi Musa laut itu terbelah, Nabi Musa
dan para pengikutnya segera menyebrangi laut tersebut. Ketika fir’aun dan
tentaranya tepat berada ditengah laut merah itu seketika itu juga laut merah
tertutup lagi dan fir’aun beserta bala tentaranya tenggelam didalamnya.
D. SIKSAAN
Siksaan dapat diartikan
sebagai siksaan badan atau jasamani dapat juga berupa siksaan jiwa atau
rohani. Siksaan yang sifatnya psikis misalnya kebimbangan, kesepian dan
ketakutan
1. Kebimbangan
Kebimbangan adalah
keadaan dimana seseorang tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil,
akibatnya seseorang berada dalam keadaan yang tidak menentu. Bagi orang yang lemah
pikirannya masalah kebimbangan akan lama dialami, sehingga siksaan itu
berkepanjangan. Tetapi bagi yang kuat berpikirnya ia akan cepat mengambil
keputusan sehingga kebimbangan akan cepat diatasi.
2. Kesepian
Kesepian adalah keadaan
dimana seseorang merasa sepi dalam dirinya atau jiwanya walawpun dia berada di
tempat keramaian.
Seperti halnya
kebimbangan, kesepian harus cepat diatasi agar seseorang tidak terlalu lama
berada dalam siksaan batin. Untuk mengatasi kesepian seseorang membutuhkan
kawan untuk berkomunikasi, kawan yang selalu ada dalam keadaan duka, yang mampu
memahami, mengerti dan menghayati kesepian yang dialami sahabat nya.
Selain mencari kawan
seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan kesibukan. Sehingga kesepian dapat
teratasi.
3. Ketakutan
Ketakutan dapat
menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila raasa takut itu
dibesar-besarkan tidak pada tempat nya maka disebut dengan phobia.
Seperti pada kesepian,
ketakutan juga dapat dialami seseorang walaupun lingkungannya ramai. Banyak
sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain :
a. Claustrophobia
dan Agoraphobia
Claustrophobia adalah
rasa takut terhadap ruangan tertutup. Misalkan kepanikan seperti situasi di
lift, kereta api atau pesawat udara. Sedangkan Agoraphobia adalah ketakutan
seseorang berada di tempat terbuka, pada umumnya penderita agoraphobia
mengalami ketakutan terhadap tempat umum.
b. Gamang
Gamang adalah ketakutan
bila seseorang berada ditempat yang tinggi. Misalkan seseorang berada
dijembatan yang sempit yang dibawahnya terdapat air yang mengalir.
c. Kegelapan
Kegelapan merupakan
ketakutan seseorang bila berada ditempat yang gelap. Sebab dalam pikirannya
akan muncul sesuatu yang menakutkan dalam tempat gelap seperti setan atau pun
pencuri. Orang yang demikian menghendaki ruangannya selalu terang.
d. Kesakitan
Kesakitan merupakan
ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang akan dialami. Misalkan seseorang
yang akan di injeksi, sebelum jarum injeksi disuntikan kedalam tubuhnya
seseorang tersebut akan berteriak-teriak karena dalam pikirannya semuanya akan
menimbulkan kesakitan.
e. Kegagalan
Kegagalan merupakan
ketakutan seseorang disebabkan karena merasa bahwa apa yang dikerjakan akan
mengalami kegagalan. Misalkan seseorang yang patah hati tidak mudah untuk
bercinta kembali dikarenakan takut gagal dalam percintaan berikutnya. Trauma
yang dialaminya menjadikan ketakutan kalau hal tersebut terulang kembali.
E. KEKALUTAN
MENTAL
Kekalutan mental adalah
gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuaan seseorang menghadapi persoalan yang
harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah kurang wajar.
Gejala-gajala awal sesorang
mengalami kekalutan mental :
- Nampak
pada jasmani yang sering merasa pusing, sesak napas, demam , nyeri pada
lambung.
- Nampak
pada kejiwaan dengan rasa cemas, cemburu, patah hati, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan
kejiwaan adalah :
- Gangguan
kejiwaan nampak pada kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohani
- Usaha
mempertahankan diri dengan cara yang negatif yaitu lari dari permasalahan. Bagi
orang yang tidak menderita gangguan kejiwaan bila menghadapi persoalan akan
langsung menyelesaikan persoalan tersebut. Jadi bukan lari dari persoalan
tetapi melawan dan menyelesaikannya.
Kekalutan merupakan
titik patah dan yang bersangkutan memiliki gangguan.
Sebab-sebab timbulnya
kekalutan mental :
a. Kepribadian
yang lemah
Hal tersebut sering
menyebabkan seseorang merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan
menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mental nya.
b. Terjadinya
konflik sosial budaya
Norma yang berbeda
antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia
tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
c. Cara
pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan
terhadap kehidupan sosial.
Proses kekalutan mental
yang dihadapi seseorang dapat mendorang kearah yang positif dan negatif.
a. Positif
Trauma yang dialami
dijawab dengan baik yaitu dengan melakukan hal-hal yang bersifat positif
seperti solat tahajud malam hari untuk memperoleh ketenangan jiwa dan mencari
jalan keluar untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
b. Negatif
Trauma yang dialami
diperlarutkan sehingga orang yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu
tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.
Bentuk frustasi antara
lain :
1. Agresi
Kemarahan yang
meluap-meluap akibat emosi yang tidak terkendali, dan secara fisik dapat
berakibat mudahnya terserang tekanan darah tinggi atau tindakan sadis yang
dapat membahayakan orang lain.
2. Regresi
Kembali kepada tingkah
laku yang kekanak-kanakan seperti menjerit-jerit, menangis sampai
meraung-raung, memecahkan barang-barang
3. Fiksasi
Peletakan atau
pembatasan pada satu pola yang sama. Misalnya dengan membisu, memukul-mukul
dada sendiri, membenturkan kepala dengan benda keras.
4. Proyeksi
Usaha melemparkan
kelemahan dan sikap-sikap sendiri kepada orang lain.
5. Identifikasi
Menyamakan diri dengan
orang yang sukses dalam imaginasinya.
6. Narsisme
Self love yang
berlebihan sehingga merasa dirinya lebih superior dibanding yang lainnya.
7. Autisme
Gejala menutup dirinya
secara total dari dunia nyata, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain,
merasa puas dengan fantasinya sendiri.
Pada umumnya penderita
kekalutan mental banyak terjadi di lingkungan :
- Kota-kota
besar karena pada umumnya dikota besar tantangan hidup lebih berat
sehingga orang merasa dikejar-kejar dalam memenuhi kebutuhan hidup nya.
- Anak-anak
usia muda yang tidak berhasil dalam mencapai yang dikehendaki atau di
idam-idamkan.
- Wanita yang
pada umumnya lebih mudah merasakan suatu masalah yang dibawanya kedalam hati
atau perasaan, tetapi sulit mengeluarkan perasaan tersebut.
- Orang
yang tidak beragama tidak memiliki keyakinan bahwa diatas dirinya ada
kekuasaan yang lebih tinggi.
- Orang
yang terlalu mengejar materi seperti pedagang atau pengusaha yang terlalu
berlebihan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.
F. PENGARUH
PENDERITAAN
Setiap penderitaan yang dialami oleh seseorang membawa pengaruh
baik positif maupun negatif. Sikap positif yaitu sikap optimis dalam
menghadapi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan,
melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu
hanya bagian dari kehidupan. Sedangkan sikap negatif misalnya penyesalan
karena tidak bahagia, kecewa, putus asa, ingin bunuh diri.
G. KESIMPULAN
Pada hakekatnya
penderitaan dan manusia itu berdampingan . karena penderitaan merupakain
rangkaian dari kehidupan. Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan.
Penderitaan itu dapat
teratasi tergantung bagaiaman seseorang menyikapi penderitaan tersebut. Banyak
hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari penderitaan
Tidak semua penderitaan
yang dialami oleh seseorang membawa pengaruh buruk bagi orang yang
mengalaminya. Melainkan dengan penderitaan kita dapat mengetahui kesalahan apa
yang telah kita perbuat. Karena penderitaan tidak akan muncul jika tidak ada
penyebabnya.
Agar manusia tidak
mengalami penderitaan yang berat untuk itu manusia harus bisa menjaga sikap dan
kelakuannya baik kepada sesama manusia, alam sekitar , maupun kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar
batas kemampuan umatnya.
H. SARAN
Sejalan dengan simpulan diatas penderitaan tidak bisa hilang
selama manusia itu masih hidup tetapi panderitaan itu bisa dikurangi bahkan
bisa sampai tak terasa. Penderitaan itu harus dijadikan sebagai hikmah dan
ujian untuk menaikan tingkat derajat manusia itu sendiri.
Referensi :
- Ilmu
Sosial & Budaya Dasar. Dr. M. Rafiek, S.Pd., M. Pd
- Google
Jumat, 18 Oktober 2013
Manusia dan Keadilan
Pentingnya Keadilan
Keadilan dalam kehidupan manusia
merupakan sesuatu yang harus selalu diperjuangkan kapan pun dan dimana pun. Sayang,
kondisi yang diharapkan penuh dengan keadilan yang menguntungkan semua pihak,
sangat sulit terwujud. Hal ini disebabkan perubahan zaman. Di zaman modern
ini, menegakkan keadilan merupakan sesuatu yang sulit ditegakkan dan jarang
ditemui.
Kita
sebagai insan manusia tentu mengharapkan keadilan yang berpihak pada seluruh
lapisan masyarakat. Namun yang terjadi sekarang adalah “keadilan adalah bagi
orang kaya”. Kondisi demikian sangat mudah kita jumpai di zaman sekarang. Maksudnya
adalah penegakkan keadilan dapat dengan mudahnya diluluhkan hanya dengan uang.
A. Asal
Kata Adil
Keadilan berasal dari bahasa arab “adl” yang
artinya bersikap dan berlaku dalam keseimbangan.Keseimbangan meliputi
keseimbangan antara hak dan kewajiban dan keserasian dengan sesama
makhluk.Keadilan pada hakikatnya adalah memperlakukan seseorang atau
orang lain sesuai haknya atas kewajiban yang telah di lakukan.Yang menjadi hak
setiap orang adalah di akui dan di perlakukan sesuai harkat dan martabatnya
yang sama derajatnya di mata Tuhan YME. Hak-hak manusia adalah hak-hak yang
diperlukan manusia bagi kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat.
B. Pengertian Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik
terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue)
pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem
pemikiran". Tapi, menurut
kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di
dunia yang adil". Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus
dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia
yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori
keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan
dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak
jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Berikut ini beberapa pengertian keadilan
menurut para filsof dan para ahli hukum:
a. Plato, menurutnya keadilan hanya dapat ada
di dalam hukum dan perundang-undangan yang dibuat oleh para ahli yang khusus
memikirkan hal itu. Untuk istilah keadilan ini Plato menggunakan kata yunani ”Dikaiosune”
yang berarti lebih luas, yaitu mencakup moralitas individual dan sosial.
Penjelasan tentang tema keadilan diberi ilustrasi dengan pengalaman saudagar
kaya bernama Cephalus. Saudagar ini menekankan bahwa keuntungan besar akan
didapat jika kita melakukan tindakan tidak berbohong dan curang. Adil
menyangkut relasi manusia dengan yang lain.
b. Aristoteles,
adalah seorang filsof pertama kali yang
merumuskan arti keadilan. Ia mengatakan bahwa keadilan adalah memberikan kepada
setiap orang apa yang menjadi haknya, fiat jutitia bereat mundus.
Selanjutnya dia membagi keadilan dibagi menjadi
dua bentuk yaitu:
1. Keadilan Distributif, adalah keadilan yang
ditentukan oleh pembuat undang-undang, distribusinya memuat jasa, hak, dan
kebaikan bagi anggota-anggota masyarakat menurut prinsip kesamaan proporsional.
2. Keadilan Korektif, yaitu keadilan yang menjamin,
mengawasi dan memelihara distribusi ini melawan serangan-serangan ilegal.
Fungsi korektif keadilan pada prinsipnya diatur
oleh hakim dan menstabilkan kembali status quo dengan cara mengembalikan milik
korban yang bersangkutan atau dengan cara mengganti rugi atas miliknya yang
hilang atau kata lainnya keadilan distributif adalah keadilan berdasarkan
besarnya jasa yang diberikan, sedangkan keadilan korektif adalah keadilan
berdasarkan persamaan hak tanpa melihat besarnya jasa yang diberikan.
c. Hans Kelsen, menurutnya keadilan tentu
saja juga digunakan dalam hukum, dari segi kecocokan dengan hukum
positif-terutama kecocokan dengan undang-undang. Ia menganggap sesuatu yang
adil hanya mengungkapkan nilai kecocokan relatif dengan sebuah norma “adil” hanya
kata lain dari “benar”.
d. Jhon
Rawls, Konsep keadilan menurut rawls, ialah suatu upaya untuk mentesiskan
paham liberalisme dan sosialisme. Sehingga secara konseptual rawls menjelaskan
keadilan sebagai fairness, yang mengandung asas-asas, “bahwa orang-orang yang
merdeka dan rasional yang berkehendak untuk mengembangkan
kepentingan-kepentingannya hendaknya memperoleh suatu kedudukan yang sama pada
saat akan memulainya dan itu merupakan syarat yang fundamental bagi mereka
untuk memasuki perhimpunan yang mereka hendaki.
e. Soekanto,
menyebut dua kutub citra keadilan yang harus melekat dalam setiap tindakan yang
hendak dikatakan sebagai tindakan adil.
1.
Naminem
Laedere, yakni "jangan merugikan orang lain", secara luas asas ini
berarti " Apa yang anda tidak ingin alami, janganlah menyebabkan orang
lain mengalaminya".
2.
Suum
Cuique Tribuere, yakni "bertindaklah sebanding". Secara luas asas ini
berarti "Apa yang boleh anda dapat, biarkanlah orang lain berusaha
mendapatkannya".
Asas pertama merupakan sendi equality yang
ditujukan kepada umum sebagai asas pergaulan hidup. Sedangkan asas kedua
merupakan azas equity yang diarahkan pada penyamaan apa yang tidak berbeda dan
membedakan apa yang memang tidak sama.
C. Teori Keadilan Menurut Ahli
1.
Teori keadilan menurut Aristoteles
1)
Keadilan Komutatif
Keadilan secara
komutatif adalah perlakuan terhadap seseorang dengan tidak melihat jasa-jasa
yang dilakukannya.
Misalnya adalah
semua manusia memiliki hak untuk hidup dan jika ada seseorang yang membatasi
hak hidup seseorang maka ia telah melanggar hukum tentang hak untuk hidup.
2)
Keadilan Distributif
Keadilan
distributif adalah perlakuan terhadap seseorang sesuai dengan jasa -jasa yang
telah ia lakukan. Misalnya tinggi
Rina 170 cm beratnya 48 kg sedangkan tinggi Siti 150 cm dan beratnya 50 cm jika
Rina dan Siti ingin membuat pakaian tentu porsi kain yang di gunakan berbeda.
Walaupun kain yang di gunakan oleh Rina lebih banyak dari kain yang di gunakan
oleh Siti tapi hal itu tetap di katakan adil
3)
Keadilan Kodrat alam
Keadilan kodrat
alam adalah memberi sesuatu sesuai dengan yang di berikan orang itu pada kita.
4)
Keadilan konvensional
Keadilan secara
konvensional adalah keadilan apabila seorang warga negara telah menaati
perundang-undangan.
5)
Keadilan menurut teori perbaikan
Keadilan
menurut teori perbaikan adalah apabila seseorang telah berusaha memperbaiki
nama baik seseorang yang telah tercemar.
2.
Keadilan menurut Plato
1)
Keadilan moral
Keadilan moral
adalah suatu perbuatan yang dapat di katakan adil secara moral apabila telah
mampu memberikan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
2)
Keadilan prosedural
Suatu perbuatan
yang di katakan adil apabila seseorang telah mampu melaksanakan perbuatan adil
berdasarkan tata cara yang telah di harapkan.
3.
Teori keadilan menurut Thomas Hobbes
Mengenai
keadilan menurut Thomas Hobbes ini, Notonegoro menambahkan legalitas atau
keadilan hukum. Tapi, banyak jumlah variasi dari teori keadilan menyebabkan
ketidakjelasan dari apa yang di tuntut dari keadilan.
D. Macam-macam
Keadilan
a)
KEADILAN
LEGAL ATAU KEADILAN MORAL
Plato
berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari
masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil
setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya
( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral,
sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk member tempat yang
selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud
dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara
baik. Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang
melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan
pertentangan dan ketidak keserasian.
b)
KEADILAN
DISTRIBUTIF
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang
sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak
sama (justice is done when equels are treated equally).
c)
KEADILAN
KOMUTATIF
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan
umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan
ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem
menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian
dalam masyarakat.
d)
KEJUJURAN
Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan
hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang
kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga
berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh
agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa
apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti
juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun
yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan
niat.
Sikap jujur itu perlu di pelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan
keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberanian
dan ketentraman hati, serta menyucikan lagi pula membuat luhurnya budi pekerti.
Pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi
kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut
terhadap kesalahan atau dosa.
Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita
melihat diri kita sendiri berhadapan dengan hal yang baik dan buruk.
Kejujuran bersangkut erat dengan masalah hati nurani. Menurut M.Alamsyah dalam
bukunya budi nurani dan filsafat berfikir, yang disebut nurani adalah sebuah
wadah yang ada dalam perasaan manusia. Wadah ini menyimpan suatu getaran
kejujuran, ketulusan dalam meneropong kebenaran local maupun kebenaran illahi
(M.Alamsyah,1986 :83). Nurani yang dikembangkan dapat jadi budi nurani yang
merupakan wadah yang menyimpan keyakinan. Kejujuran ataupun ketulusan dapat di
tingkatkan menjadi sebuah keyakinan atas diri keyakinannya maka seseorang di
ketahui kepribadiannya.
Dan hati nurani bertindak sesuai dengan norma-norma kebenaran akan menjadikan
manusianya memiliki kejujuran, ia akan menjadi manusia jujur. Sebaliknya orang
yang secara terus-menerus berfikir atau bertindak bertentangan dengan hati
nuraninya akan selalu mengalami konflik batin, ia akan selalu mengalami
ketegangan, dan sifatnya kepribadiannya yang semestinya tunggal menjadi pecah.
Untuk mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap yang perlu di pupuk.
Namun demi sopan santun dan pendidikan, orang diperbolehkan berkata tidak
jujur apabila sampai batas-batas yang di tentukan.
e)
PEMULIHAN NAMA BAIK
Nama
baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela.
Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi
orang/tetangga di sekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak
ternilai harganya. Ada peribahasa berbunyi "daripada berputih mata lebih
baik berputih tulang" artinya orang lebih baik mati dari pada
malu. Betapa besar nilai nama baik itu
sehingga nyawa menjadi taruhannya. Setiap orang tua selalu
berpesan kepada anak-anaknya "jagalah nama keluargamu!" Dengan
menyebut "nama" berarti sudah mengandung arti "nama baik".
Ada pula pesan orang tua "jangan membuat malu"
pesan itu juga berarti menjaga nama baik.
f) PEMBALASAN
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain,
reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah
laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
Contoh
:
A memberikan makanan kepada B. Di lain kesempatan B
memberikan minuman kepada A. Perbuatan tersebut
merupakan perbuatan serupa, dan ini merupakan
pembalasan.
Dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa
Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan
pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan
pembalasan dan pembalasan yang diberikan pun pembalasan yang seimbang,
yaitu siksaan di neraka. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan.
Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat.
Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak
bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk
sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan
moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkungan lah yang
menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar
atau memperkosa hak dan kewajiban manusia lain. Oleh karena tiap manusia tidak
menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia
berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan
kewajiban itu adalah pembalasan.
E. Bentuk Penyelewengan Keadilan
1. Kecurangan
Kecurangan
atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan
licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.
Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati
nuraninya. Mereka yang berbuat curang menganggap akan mendatangkan
kesenangan atau keenakan, meskipun orang lain menderita karenanya.
Kecurangan
menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang
berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling
kaya dan senang bila masyarakat di sekelilingnya hidup menderita.
Bermacam-macam
sebab orang melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam
sekitarnya, ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan,aspek
peradaban, dan aspek teknik. Apabila
keempat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka
segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum. Akan
tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri,
dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan
jadilah kecurangan.
F. Sikap Mewujudkan Keadilan
1. Perbuatan luhur
yang mencerminkan sikap dan suasana yang kekeluargaan dan gotong royong.
2. Sikap adil
terhadap sesama.
3. Sikap suka
menolong.
4. Sikap suka
bekerja keras.
5. Sikap menghargai
hasil kerja keras orang lain.
G. Asas Yang Menuju Terciptanya Keadilan
a) Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok
rakyat.
b) Pemerataan perolehan pendidikan dan
layanan kesehatan.
c) Pemerataan pembagian penghasilan.
d) Pemerataan kesempatan kerja.
e) Pemerataan kesempatan berusaha.
f) Pemerataan kesempatan berpartisipasi
dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
g) Pemerataan pembangunan di seluruh
wilayah Indonesia.
h) Pemerataan kesempatan memperoleh
keadilan.
Referensi
:
-Ilmu
Sosial & Budaya Dasar , Dr. M. Rafiek, S.Pd., M. Pd.
-http://Wikipedia.org/maknakeadilan
Langganan:
Komentar (Atom)
