Sabtu, 12 November 2016

ETIKA BISNIS 5



 TUGAS 5

PENDAHULUAN

  Di era sekarang ini polusi seperti sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Terutama bagi warga yang tinggal di kota-kota besar dimana kendaraan bermotor amat mudah dijumpai. Bahkan tiada hari tanpa adanya kemacetan. Bagi warga kota besar hal ini tak asing lagi, bahkan gaungan bahaya polusi bagi kesehatan tubuh seperti tak dihiraukan lagi, tetapi tetap saja terasa mengganggu. Sebenarnya bukan hanya asap kendaraan bermotor saja yang mengganggu, tetapi juga dari asap-asap lain seperti hasil pembakaran sampah dan juga asap yang berasal tempat yang menjual makanan bakar seperti sate yang terletak tak jauh dari kampus G Gundarma.

TEORI

Etika Pengendalian Polusi

Lembaga bisnis mengabaikan akibat kegiatan mereka terhadap lingkungan sebab:
1.      Para pelaku bisnis menganggap udara dan air itu barang gratis.
2.      Bisnis melihat lingkungan sebagai barang tak terbatas.

Etika Ekologi

  Etika ekologi adalah sebuah etika yang mengklaim bahwa kesejahteraan dari bagian-bagian non-manusia di bumi ini secara intrinsik memiliki nilai tersendiri dan bahwa, karena adanya nilai intrinsik ini, kita manusia memiliki tugas untuk menghargai dan mempertahankannya. Paul Taylor mengatakan, “sifat karakter secara moral adalah baik ketika mengekspresikan atau mewujudkan sikap moral dasar, yang saya sebut sebagi penghargaan terhadap alam”. 

Hak Lingkungan dan Pembatasan Mutlak

  William T. Blackstone menyatakan bahwa kepemilikan atas lingkungan yang nyaman tidak hanya sangat diinginkan, namun merupakan hak bagi setiap manusia. Undang-undang federal menetapkan batasan-batasan atas hak properti pada para pemilik perusahaan. Masalah utama dari pandangan Blackstone adalah pandangan ini gagal memberikan petunjuk tentang sejumlah pilihan yang cukup berat mengenai lingkungan.


Biaya Pribadi dan Biaya Sosial


  Polusi membebankan biaya eksternal, dan hal ini selanjutnya berarti biaya-biaya produksi (biaya pribadi atau internal) lebih kecil dibandingkan biaya sosial. Akibatnya, pasar tidak menetapkan disiplin potimal pada produsen, dan hasilnya adalah penurunan utilitas sosial. Jadi, polusi lingkungan merupakan suatu pelanggaran atas prinsip-prinsip utilitarian yang merupakan dasar sistem pasar.

ANALISIS

Lokasi yang strategis menjadi tempat yang tepat untuk berdagang. Bagi warga Gunadarma pasti tidak asing dengan perempatan dekat Kampus G. Dekat lampu merah terdapat sebuah warung sate ayam. Seperti yang kita tahu bahwa sate disediakan dengan cara dibakar yang artinya akan menghasilkan banyak asap. Sebagai pengguna jalan yang sering melalui warung tersebut, jujur sangat terganggu dengan adanya asap ini yang sangat menyesakkan dan meninggalkan bekas aroma sate pada pakaian. 

Mereka mungkin tidak beranggapan semua orang terganggu dengan asap yang mereka hasilkan. Tetapi jika diamati bukan hanya pejalan kaki yang akan terganggu, karena loksai warung persis disamping lampu merah yang artinya saat lampu menyala merah pengendara motor yang berhenti pun akan 'menikmati' asapnya. Dapat dibayangkan di siang hari yang panas menyengat, ditemani polusi kendaraan, dan dilengkapi dengan asap pembakaran sate yang mengepul.

Sebagai pejalan kaki, harapan kami adalah penjual sate dapat menggunakan hexaust fan atau kita biasa sebut heksos, mengingat lokasinya yang di pinggir jalan jika solusi untuk berpindah tempat dilihat terlalu sulit karena tempat sebelumnya merupakan lokasi yang sangat strategis.

REFERENSI 

-  Materi kuliah Etika Bisnis Tugas 5 

Selasa, 01 November 2016

ETIKA BISNIS 4

PENDAHULUAN
  Di masa sekarang, ekonomi terasa semakin sulit. Mendapatkan pekerjaan bukanlah hal mudah. Disebabkan oleh hal ini, banyak yang akhirnya menghalalkan segala cara untuk menghasilkan uang. Sehingga orang-orang yang amanah dan dapat dipercaya semakin sulit ditemui karena contohnya banyak penjual yang tidak jujur akan produk yang dijualnya. Yang penting laku, yang penting dapat untung, kirar-kira begitu. Kali ini penulis akan mencoba menganalisis peristiwa serupa yang dialami seorang teman karena sebuah promosi.

TEORI
  Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang harus ditempuh perusahaan oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut:
1.      Prinsip otonomi
2.      Prinsip kejujuran
3.      Prinsip tidak berniat jahat
4.      Prinsip keadilan
5.      Prinsip hormat pada diri sendiri
Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena :
a.      Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
b.      Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
c.       Melindungi prinsip kebebasan berniaga
Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.

ANALISIS
  Sebagai contoh seorang teman berkesempatan untuk berbelanja online di salah satu portal belanja online besar di Indonesia. Ia membeli earphone  yang sedang diskon dari harga Rp 70.000,- menjadi hanya Rp 16.000,-. Karena penawaran yang menggiurkan ia akhirnya memutuskan membeli earphone yang berlabel “Earphone Original Samsung”. Ternyata baru sekali pemakaian, suara yang dihasilkan earphone tersebut timpang, bagian kiri dan kanan tidak menghasilkan suara yang sama. Hal ini jelas merupakan pembohongan karena sang penjual mencantumkan kata “orginal” atau asli. Meskipun kita bisa sedikit curiga di awal sebelum pembelian karena harga yang diwarkan amat murah untuk kelas perangkat asli.
  Ini pun menunjukkan keberhasilan taktik promosi perusahaan hingga ada konsumen yang mau membeli produk tersebut. Dari sisi etika bisnis cara promosi perusahaan dengan tak jujur menjelaskan produk yang dijual kepada konsumen tidak dibenarkan. Karena jual-beli bukan hanya masalah barang dagangan laku terjual dan mendapat untung, tetapi juga bagaimana konsumen terpenuhi kebutuhannya dan puas terhadap barang tersebut. Mungkin dengan promosi yang bisa dibilang sedikit “gila” konsumen banyak yang tertarik dan akhirnya memutuskan membeli, tetapi dampaknya penjual tersebut tidak akan dipercaya lagi dan konsumen pun akan ogah membeli produk lain dari penjual yang sama.
  Seperti kita ketahui bersama, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Maka, lebih jauh para konsumen yang kecewa ini akan menyarankan orang-orang disekitarnya untuk menghindari produk yang dijual oleh penjual yang telah membohonginya tersebut. Sehingga dapat mematikan usaha penjual tersebut karena ketidakjujurannya.